Salah satu perjalanan yang paling membekas selama saya berada di Jerman adalah ketika kami berangkat menuju Luxembourg.
Bukan karena jaraknya yang jauh.
Bukan pula karena kami menggunakan moda transportasi yang mewah.
Justru sebaliknya.
Perjalanan itu terasa begitu sederhana sehingga membuat saya kagum.
Sebagai orang Indonesia, saya terbiasa menganggap perjalanan ke negara lain sebagai sesuatu yang besar. Biasanya identik dengan bandara, paspor, pemeriksaan imigrasi, dan penerbangan berjam-jam.
Namun dari Wittlich menuju Luxembourg, semuanya terasa berbeda.
Kami berangkat seperti orang yang hendak pergi ke kota sebelah.
Naik kereta.
Membawa bekal ringan.
Lalu menikmati pemandangan sepanjang jalan.
Berangkat dari Wittlich
Pagi itu kami menuju Stasiun Wittlich.
Stasiun yang tidak terlalu besar, namun tertata rapi dan nyaman.
Seperti banyak stasiun di Jerman, suasananya tenang.
Orang datang sesuai jadwal.
Tidak banyak keramaian.
Tidak ada pedagang yang berteriak menawarkan dagangan.
Tidak ada hiruk-pikuk yang berlebihan.
Semua berjalan apa adanya.
Perjalanan dimulai menuju Trier, kota bersejarah yang pernah menjadi salah satu pusat penting Kekaisaran Romawi.
Sepanjang perjalanan, saya menikmati pemandangan dari balik jendela kereta.
Ladang-ladang pertanian membentang di kejauhan.
Desa-desa kecil muncul silih berganti.
Sesekali terlihat gereja tua dengan menara menjulang di tengah permukiman.
Rumah-rumah tampak rapi dan terawat.
Di beberapa tempat terlihat peternakan dan hamparan kebun yang hijau.
Saya selalu menyukai perjalanan dengan kereta.
Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat dunia bergerak perlahan dari balik jendela.
Setelah tiba di Trier, perjalanan berlanjut menuju Luxembourg.
Kereta melintasi kawasan perbatasan melalui Igel dan Wasserbillig.
Yang menarik, hampir tidak ada kesan dramatis ketika memasuki negara lain.
Tidak ada gerbang besar.
Tidak ada pemeriksaan yang membuat perjalanan terhenti.
Tahu-tahu kami sudah berada di Luxembourg.
Sebagai orang yang berasal dari Kalimantan Barat, pengalaman itu terasa unik.
Di Indonesia, berpindah provinsi saja kadang memerlukan waktu yang panjang.
Di sini, berpindah negara terasa seperti berpindah kabupaten.
Tiket 49 Euro yang Membuka Banyak Pintu
Perjalanan itu juga menjadi bagian dari pengalaman kami menggunakan Deutschlandticket.
Saat kami berada di Jerman pada Juni hingga Juli 2025, harga tiket ini masih 49 euro per bulan.
Tiket tersimpan di aplikasi Deutsche Bahn (DB) di telepon genggam.
Dengan tiket tersebut kami bisa menggunakan berbagai moda transportasi umum regional, baik kereta maupun bus.
Selama tinggal di Lüxem, tiket itu menjadi sahabat perjalanan kami.
Dengan tiket yang sama kami dapat bepergian ke Trier, Koblenz, Köln, Dortmund, Düsseldorf, Cochem, hingga Luxembourg.
Bagi saya, konsep ini terasa luar biasa.
Satu tiket.
Satu aplikasi.
Dan begitu banyak tujuan.
Kini saya mendengar harga tiket tersebut telah naik menjadi sekitar 59 euro per bulan.
Namun bagi saya, angka 49 euro akan selalu memiliki kenangan tersendiri.
Karena tiket itulah yang membuka begitu banyak pengalaman selama musim panas di Jerman.
Ketika Kereta Bermasalah
Namun perjalanan menuju Luxembourg tidak sepenuhnya mulus.
Di tengah perjalanan, kereta yang kami tumpangi mengalami gangguan teknis.
Awalnya saya tidak memahami pengumuman yang disampaikan dalam bahasa Jerman melalui pengeras suara.
Namun melihat penumpang lain mulai berkemas dan berdiri, saya sadar ada sesuatu yang tidak beres.
Tak lama kemudian kami mengetahui bahwa perjalanan tidak dapat dilanjutkan menggunakan kereta tersebut.
Semua penumpang diminta turun.
Saya sempat terkejut.
Dalam bayangan saya, negara maju identik dengan segala sesuatu yang berjalan sempurna.
Kereta selalu tepat waktu.
Sistem selalu bekerja.
Tidak pernah ada gangguan.
Ternyata kenyataannya tidak seperti itu.
Kami turun bersama penumpang lain dan menunggu kereta pengganti.
Kurang lebih tiga puluh menit.
Sebagian orang duduk di bangku stasiun.
Sebagian sibuk dengan telepon genggam mereka.
Ada yang membaca buku.
Ada yang berbincang santai.
Yang menarik, hampir tidak ada yang terlihat marah.
Tidak ada yang berteriak.
Tidak ada yang kehilangan kesabaran.
Mereka tampak menerima situasi itu sebagai bagian dari perjalanan.
Saya tersenyum sendiri.
“Ternyata di negara maju juga bisa begini,” pikir saya.
Perbedaannya mungkin bukan pada ada atau tidak adanya masalah.
Perbedaannya terletak pada bagaimana sistem mengatasinya dan bagaimana masyarakat menyikapinya.
Tak lama kemudian kereta pengganti datang.
Kami kembali naik.
Perjalanan pun berlanjut.
Sebuah Kota Kecil yang Mendunia
Ketika akhirnya tiba di Luxembourg, saya kembali dibuat kagum.
Negara kecil yang luasnya bahkan tidak sebesar banyak kabupaten di Indonesia ini ternyata memiliki peran penting di Eropa.
Kota Luxembourg terasa modern sekaligus elegan.
Di jalan-jalannya terdengar berbagai bahasa.
Bahasa Prancis.
Bahasa Jerman.
Bahasa Luxembourgish.
Bahasa Inggris.
Dan bahasa-bahasa lain yang tidak saya kenali.
Orang datang dan pergi dari berbagai negara.
Sebagian bekerja di sektor keuangan.
Sebagian bekerja di lembaga-lembaga Uni Eropa.
Sebagian lagi adalah wisatawan seperti kami.
Saya berdiri sejenak memperhatikan kehidupan yang berjalan di kota itu.
Lalu teringat bahwa pagi tadi saya masih berada di sebuah desa kecil bernama Lüxem.
Kini saya sudah berada di negara lain.
Semuanya hanya dengan naik kereta.
Dunia yang Terhubung
Perjalanan ke Luxembourg membuat saya memahami satu hal.
Dunia ternyata jauh lebih terhubung daripada yang selama ini saya bayangkan.
Di Eropa Barat, seseorang bisa sarapan di Jerman, minum kopi siang di Luxembourg, lalu kembali ke rumah pada sore hari.
Bagi masyarakat setempat mungkin hal itu biasa.
Namun bagi saya, itu adalah pengalaman yang mengubah cara pandang tentang jarak dan batas negara.
Dan ketika mengenang perjalanan tersebut, saya tidak hanya mengingat gedung-gedung di Luxembourg.
Saya juga mengingat jendela kereta.
Ladang-ladang hijau.
Stasiun kecil di sepanjang jalur.
Gangguan kereta yang membuat kami menunggu tiga puluh menit.
Serta perasaan takjub ketika menyadari bahwa sebuah perjalanan lintas negara ternyata bisa dimulai dengan sesuatu yang sangat sederhana: sebuah tiket di telepon genggam dan sebuah kereta dari Wittlich. ***
“Saat kereta kami bermasalah dan semua penumpang diminta turun, saya tersenyum sendiri. Ternyata negara maju juga tidak selalu sempurna. Yang berbeda adalah cara mereka menghadapi ketidaksempurnaan itu.”
Leave a Reply