Luxembourg: Kota Kecil dengan Ambisi Besar

Pagi berangkat dari desa kecil di Jerman, siang berdiri di depan katedral megah Luxembourg. Eropa membuat jarak terasa lebih pendek daripada yang saya bayangkan

Setelah menempuh perjalanan dengan kereta dari Wittlich melalui Trier menuju Luxembourg, akhirnya kami tiba di ibu kota negara kecil yang selama ini hanya saya kenal dari peta dan berita ekonomi.

Kesan pertama saya sederhana.

Kota ini tidak sebesar Frankfurt.

Tidak seramai Köln.

Tidak pula sepadat Düsseldorf.

Namun ada sesuatu yang membuatnya terasa berbeda.

Rapi.

Elegan.

Dan terasa makmur.

Anak-anak saya sudah beberapa kali bercerita tentang Luxembourg. Menurut mereka, negara kecil ini dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat pendapatan tertinggi di Eropa, bahkan dunia. Karena itu tidak sedikit warga Jerman, terutama dari kawasan Trier dan sekitarnya, yang setiap hari bekerja di Luxembourg tetapi tetap tinggal di Jerman. Alasan utamanya sederhana: gaji yang lebih tinggi, sementara biaya hidup dan harga rumah di beberapa wilayah Jerman relatif lebih terjangkau.

Bagi saya, hal itu menarik.

Di Indonesia, bepergian ke negara lain untuk bekerja setiap hari terdengar luar biasa.

Namun di sini itu menjadi bagian dari kehidupan normal.

Bus Kota yang Gratis

Hal lain yang membuat saya terkejut adalah transportasi umum di Luxembourg.

Jika di Jerman kami mengandalkan Deutschlandticket seharga 49 euro per bulan saat itu, di Luxembourg kami mendapati sesuatu yang lebih mengejutkan.

Bus kota gratis.

Begitu pula sebagian besar transportasi publik nasional.

Sebagai orang Indonesia, saya sempat bertanya beberapa kali untuk memastikan.

“Benar gratis?”

Jawabannya tetap sama.

Gratis.

Kami pun naik bus tanpa harus membeli tiket.

Rasanya aneh sekaligus menyenangkan.

Saya membayangkan betapa besar investasi yang dilakukan negara ini untuk mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.

Tidak heran jika Luxembourg sering disebut sebagai salah satu negara dengan kualitas hidup terbaik di Eropa.

Katedral Notre-Dame

Salah satu tempat yang paling membuat saya terkesan adalah Katedral Notre-Dame Luxembourg, gereja Katolik terbesar dan satu-satunya katedral di negara tersebut. Bangunan ini berdiri megah di pusat kota dengan arsitektur Gotik yang dipadukan unsur Renaisans dan Barok. Pembangunannya dimulai pada tahun 1613 sebagai gereja Jesuit sebelum kemudian menjadi katedral nasional Luxembourg.

Ketika berdiri di depannya, saya merasa bangunan itu memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak gereja yang pernah saya lihat.

Menara-menara rampingnya menjulang ke langit.

Dinding batu tua menyimpan sejarah berabad-abad.

Sementara di dalamnya, cahaya yang menembus kaca patri menciptakan suasana yang tenang dan khidmat.

Wisatawan datang silih berganti.

Ada yang berfoto.

Ada yang duduk diam berdoa.

Ada pula yang sekadar mengagumi arsitekturnya.

Istana di Tengah Kota

Tak jauh dari sana kami juga melihat Grand Ducal Palace, istana resmi keluarga Adipati Agung Luxembourg.

Yang menarik, istana ini tidak berdiri jauh dari pusat kehidupan kota.

Ia menyatu dengan kawasan tua yang dipenuhi pejalan kaki, toko, kafe, dan wisatawan.

Sebagai orang Indonesia, saya agak terkejut melihat betapa dekatnya bangunan penting negara dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tidak ada kesan terisolasi.

Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara penguasa dan ruang publik.

Bangunan bergaya Renaisans ini telah menjadi kediaman resmi keluarga penguasa Luxembourg sejak akhir abad ke-19.

Jembatan yang Menjadi Simbol Negara

Kami juga sempat melihat Adolphe Bridge, jembatan batu yang menjadi salah satu simbol paling terkenal di Luxembourg.

Dari kejauhan bentuk lengkungannya terlihat anggun membentang di atas lembah.

Jembatan yang selesai dibangun pada tahun 1903 ini sering dianggap sebagai simbol kemerdekaan dan identitas nasional Luxembourg.

Di sekitar jembatan, pemandangan kota terlihat sangat indah.

Lembah hijau.

Bangunan-bangunan tua.

Jalan-jalan yang bersih.

Serta lalu lintas yang tertata.

Saya beberapa kali berhenti hanya untuk menikmati panorama itu.

Kota yang Multikultural

Satu hal yang paling saya rasakan selama berada di Luxembourg adalah suasana internasionalnya.

Di jalan-jalan kota, saya mendengar berbagai bahasa.

Bahasa Prancis.

Bahasa Jerman.

Bahasa Inggris.

Dan bahasa-bahasa lain yang tidak saya kenali.

Wajah-wajah yang saya lihat pun beragam.

Tidak hanya orang Eropa.

Ada banyak orang Asia, Afrika, Timur Tengah, dan berbagai bangsa lainnya.

Kota ini terasa seperti titik pertemuan banyak budaya.

Mungkin karena Luxembourg memang menjadi pusat berbagai lembaga Eropa dan kegiatan ekonomi internasional.

Negara Kecil, Pelajaran Besar

Ketika sore mulai turun dan kami bersiap kembali ke Jerman, saya duduk sejenak memperhatikan keramaian kota.

Wisatawan berjalan santai.

Bus-bus melintas tanpa memungut ongkos.

Katedral tua berdiri kokoh.

Dan orang-orang dari berbagai negara menjalani kehidupan mereka seperti biasa.

Saya kembali teringat bahwa pagi tadi saya berangkat dari sebuah desa kecil bernama Lüxem.

Kini saya berada di negara lain.

Semuanya hanya dengan perjalanan kereta.

Luxembourg mungkin kecil jika dilihat di peta.

Namun bagi saya, negara ini memberikan pelajaran besar tentang keterhubungan, mobilitas, dan bagaimana sebuah negara dapat memanfaatkan kemakmurannya untuk membangun kualitas hidup masyarakat.

Dan ketika mengenang perjalanan itu, yang saya ingat bukan hanya bangunan-bangunannya.

Tetapi juga rasa takjub karena melihat sebuah negara kecil yang mampu meninggalkan kesan begitu besar. ***



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *