Sejauh apa pun perjalanan membawa kita, selalu ada orang-orang yang membuat kita merasa seperti pulang ke rumah.
Jika melihat peta Eropa, kadang saya tersenyum sendiri. Jarak antarnegara yang dulu terasa begitu jauh ternyata bisa ditempuh hanya dalam hitungan jam.
Pengalaman itu kami rasakan ketika berkunjung ke Maastricht, sebuah kota tua yang menawan di Belanda bagian selatan.
Perjalanan ini terasa istimewa karena keluarga kami berangkat dari arah yang berbeda.
Saya, istri, putri bungsu kami Stella, putra kedua yang sedang menjalani program Ausbildung di Jerman, serta pacarnya berangkat menggunakan kereta dari Düsseldorf.
Sementara putri sulung kami bersama suaminya berangkat menggunakan mobil dari Lüxem, desa kecil di wilayah Wittlich tempat mereka tinggal.
Kami sepakat bertemu di Aachen.
Sebuah kota yang bagi banyak orang Indonesia memiliki makna tersendiri karena pernah menjadi tempat kuliah dan tinggal Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie.
Meski hanya singgah, saya tetap merasakan sensasi khusus ketika menginjakkan kaki di kota yang pernah menjadi bagian penting perjalanan hidup Habibie.
Singgah di Wohnung Orang Pontianak
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Maastricht, kami mampir ke sebuah wohnung atau apartemen milik seorang warga Pontianak yang merupakan teman putri kami.
Namanya Mega.
Saya sebenarnya mengetahui nama lengkapnya.
Namun karena belum meminta izin secara khusus, saya sengaja hanya menuliskan nama depannya saja.
Selama berada di Jerman, saya belajar bahwa privasi adalah sesuatu yang sangat dihargai.
Mungkin kebiasaan baik itu patut kita tiru.
Mega tinggal bersama suaminya, Abshar, yang berasal dari Myanmar.
Meski kalau jujur, lidah saya beberapa kali terpeleset memanggilnya Abrar.
Entah kenapa.
Mungkin faktor usia.
Mungkin juga otak saya mulai sedikit berkabut.
Untunglah Abshar selalu tertawa mendengarnya.
Dan saya pun ikut tertawa.
Yang menarik, meski baru dua kali bertemu, kami langsung merasa akrab.
Pertama saat pesta pernikahan putri kami di Jerman.
Kedua ketika kami berkunjung ke apartemen mereka di Aachen.
Kadang memang ada orang-orang yang membuat kita merasa sudah lama saling mengenal, meski sebenarnya baru bertemu beberapa kali.
Abshar termasuk salah satunya.
Ramah.
Santai.
Dan mudah diajak berbincang.
Apartemen mereka juga terasa nyaman dan hangat.
Tidak mewah.
Tidak besar.
Tetapi memiliki suasana rumah yang menyenangkan.
Apalagi ketika makanan mulai tersaji.
Abshar menyiapkan hidangan yang sangat cocok dengan lidah kami orang Asia.
Salah satunya kebab yang sampai sekarang masih saya ingat rasanya.
Bumbunya pas.
Dagingnya empuk.
Dan entah kenapa terasa lebih dekat dengan selera kami dibandingkan beberapa makanan Eropa yang pernah saya coba.
Saya bahkan tanpa malu-malu menambah porsi lagi.
Mungkin lebih dari sekali.
Untung tidak ada yang menghitung.
Kalau ada, mungkin saya sudah ketahuan rakus.
Sementara itu, istri saya tampaknya menemukan kebahagiaannya sendiri.
Begitu bertemu Mega, bahasa Pontianak langsung keluar deras.
Percakapan mereka mengalir tanpa henti.
Tentang keluarga.
Tentang teman-teman lama.
Tentang kehidupan di Jerman.
Tentang Pontianak.
Saya hanya duduk sambil mendengarkan.
Bahasa Pontianak yang meluncur dari mulut mereka terasa mengalir sederas Sungai Kapuas.
Di sebuah apartemen di Aachen, ribuan kilometer dari Kalimantan Barat, kami tiba-tiba menemukan sedikit suasana kampung halaman.
Dari Aachen ke Maastricht
Setelah cukup beristirahat dan menikmati jamuan makan siang, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Maastricht.
Inilah salah satu hal yang terus membuat saya kagum selama berada di Eropa.
Berpindah negara terasa begitu mudah.
Tidak ada kesan sedang melakukan perjalanan internasional yang besar.
Kami hanya naik bus dari sebuah kota di Jerman.
Beberapa waktu kemudian, kami sudah berada di Belanda.
Sebagai orang Indonesia yang berasal dari negara kepulauan yang luas, pengalaman seperti ini terasa unik.
Kadang saya masih sulit membayangkan bahwa dalam sehari seseorang bisa sarapan di Jerman, makan siang di Belanda, lalu kembali lagi ke Jerman pada malam hari.
Kota Tua yang Hidup
Sesampainya di Maastricht, saya langsung memahami mengapa kota ini begitu dicintai banyak orang.
Kota ini memiliki suasana yang berbeda.
Tenang tetapi hidup.
Tua tetapi tidak terasa kuno.
Jalan-jalan batu yang telah berusia ratusan tahun masih digunakan hingga hari ini.
Bangunan-bangunan bersejarah berdiri berdampingan dengan toko modern, restoran, dan kafe yang ramai.
Di berbagai sudut kota terlihat orang berjalan santai.
Sebagian duduk menikmati kopi.
Sebagian mengobrol dengan teman-teman.
Sebagian lagi menikmati akhir pekan bersama keluarga.
Tidak ada yang terburu-buru.
Seolah kota ini mengajak setiap orang untuk berjalan lebih pelan dan menikmati hidup.
Kami menyusuri pusat kota, melihat bangunan-bangunan tua yang menjadi kebanggaan Maastricht.
Beberapa gereja tua menjulang anggun.
Lapangan-lapangan kota dipenuhi wisatawan.
Toko-toko suvenir menawarkan berbagai barang khas Belanda.
Di sinilah kembali terlihat kebaikan hati Mega.
Ia mentraktir Stella membeli makanan dan beberapa suvenir.
Bagi anak kecil, tentu hal itu menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Dan bagi orang tua seperti saya, melihat anak tersenyum selalu menjadi kebahagiaan tersendiri.
Tentang Pertemuan
Ketika mengenang Maastricht, yang paling saya ingat sebenarnya bukan bangunan tua atau jalan-jalan bersejarahnya.
Yang paling saya ingat adalah pertemuan.
Bertemu anak-anak.
Bertemu menantu.
Bertemu teman dari Pontianak.
Bertemu keluarga baru dari Myanmar.
Duduk bersama di sebuah apartemen di Aachen.
Makan kebab yang lezat.
Mendengar bahasa Pontianak mengalir deras di negeri orang.
Lalu melanjutkan perjalanan bersama menuju Belanda.
Saya menyadari bahwa perjalanan terbaik tidak selalu ditentukan oleh objek wisata yang kita lihat.
Kadang yang paling membekas justru orang-orang yang kita temui di sepanjang jalan.
Karena pada akhirnya, kota-kota mungkin akan perlahan memudar dari ingatan.
Namun keramahan, persahabatan, dan kehangatan yang kita terima akan tinggal jauh lebih lama.
Dan itulah yang saya bawa pulang dari Maastricht.
Bukan hanya foto-foto.
Melainkan cerita tentang keluarga, persahabatan, dan sedikit rasa Pontianak yang kami temukan di jantung Eropa. ***
Leave a Reply