Oleh Stefanus Akim
Setelah lebih dari 17 jam perjalanan dari Jakarta menuju Frankfurt, rasa lelah itu hilang dalam sekejap. Di ujung perjalanan, keluarga menunggu sambil membawa bunga dan pelukan
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta menuju Frankfurt melalui Doha, akhirnya roda pesawat menyentuh landasan Bandara Frankfurt.
Jika dihitung-hitung, total perjalanan kami memakan waktu lebih dari 17 jam penerbangan, belum termasuk waktu transit di Bandara Doha yang terkenal megah itu.
Bagi saya, perjalanan tersebut terasa seperti sebuah lompatan besar.
Dari Pontianak yang panas dan lembap menuju jantung Eropa.
Dari Sungai Kapuas menuju Sungai Mosel.
Dari kehidupan sehari-hari yang biasa menuju petualangan yang selama ini hanya saya lihat di televisi dan buku.
Saya berangkat bersama istri, putri bungsu kami yang saat itu berusia tujuh tahun, serta pacar putra kami yang sedang kuliah di Yogyakarta.
Tubuh memang lelah setelah duduk berjam-jam di dalam pesawat.
Namun rasa lelah itu langsung menguap begitu kami keluar dari area kedatangan.
Di sana sudah menunggu orang-orang yang kami cintai.
Putri sulung kami.
Pria Jerman yang kini menjadi menantu kami—meski saat itu statusnya masih pacar karena mereka belum menikah secara sipil maupun menerima Sakramen Perkawinan di Gereja Katolik.
Putra kedua kami yang sedang menjalani program Ausbildung dan tinggal di Düsseldorf.
Serta kedua orang tua calon menantu kami.
Mereka datang khusus untuk menjemput kami.
Momen itu menjadi salah satu momen paling mengharukan dalam perjalanan kami.
Ribuan kilometer dari rumah, kami justru disambut seperti keluarga kerajaan.
Bahkan kami diberi bunga.
Dan bunga itu bunga sungguhan.
Bukan bunga plastik.
Saya sampai tertawa sendiri.
Entah mengapa menerima bunga di bandara terasa begitu istimewa.
Mungkin karena di usia saya sekarang, tidak banyak lagi orang yang memberi bunga.
Biasanya yang datang justru tagihan listrik atau pesan WhatsApp dari grup keluarga.
Karena itu, menerima setangkai bunga di Bandara Frankfurt terasa sangat berkesan.
Dari Frankfurt ke Lüxem
Setelah semua pelukan, sapaan, dan foto-foto selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju Lüxem, sebuah desa kecil di wilayah Wittlich yang kelak menjadi “rumah” kami selama beberapa minggu di Jerman.
Perjalanan dari Frankfurt menuju Lüxem ditempuh dengan mobil.
Jaraknya sekitar dua ratus kilometer lebih.
Saya duduk memperhatikan pemandangan sepanjang jalan.
Jalan tol Jerman terkenal dengan Autobahn-nya yang legendaris.
Namun yang paling menarik perhatian saya bukanlah kecepatan mobil.
Melainkan pemandangan di kiri dan kanan jalan.
Hamparan ladang hijau.
Perbukitan yang tertata rapi.
Hutan-hutan yang tampak terawat.
Sesekali terlihat desa-desa kecil dengan gereja tua yang menonjol di antara atap-atap rumah.
Semua terlihat begitu tenang.
Begitu teratur.
Begitu berbeda dengan pemandangan yang biasa saya lihat sehari-hari di Kalimantan Barat.
Musim Panas yang Tetap Terasa Dingin
Saat itu Jerman sedang memasuki musim panas.
Secara teori, cuacanya hangat.
Bahkan bagi warga lokal mungkin terasa panas.
Namun bagi saya yang berasal dari daerah tropis, pengalaman itu sedikit berbeda.
Saya masih mengenakan sweater.
Dan saya sama sekali tidak merasa kepanasan.
Justru beberapa kali saya merasa udara masih cukup dingin.
Anak-anak menertawakan saya.
Menurut mereka, warga Jerman mungkin heran melihat seseorang memakai sweater pada musim panas.
Tetapi saya tidak peduli.
Tubuh saya lebih percaya pada angin yang menyentuh kulit daripada angka yang tertulis di aplikasi cuaca.
Lagi pula, saya berasal dari Pontianak.
Kota yang sepanjang tahun hampir tidak pernah mengenal hawa dingin.
Awal dari Banyak Cerita
Saat mobil memasuki wilayah Wittlich dan akhirnya tiba di Lüxem, saya belum menyadari bahwa perjalanan ini akan melahirkan begitu banyak cerita.
Tentang Sungai Mosel yang indah.
Tentang kastil-kastil tua yang berdiri sejak abad pertengahan.
Tentang jalur wandern yang membuat saya ngos-ngosan karena berat badan yang terlalu ramah dengan nasi.
Tentang kereta yang mogok menuju Luxembourg.
Tentang kota-kota tua yang menyimpan sejarah Romawi.
Tentang orang-orang Jerman yang ternyata ramah dan ringan menyapa.
Namun semua cerita itu bermula dari satu momen sederhana.
Keluar dari pintu kedatangan Bandara Frankfurt.
Melihat anak-anak menunggu.
Menerima bunga.
Dan menyadari bahwa sejauh apa pun kita bepergian, tidak ada sambutan yang lebih hangat daripada pelukan keluarga.
Perjalanan ke Jerman sesungguhnya tidak dimulai ketika pesawat lepas landas dari Jakarta.
Ia dimulai ketika saya melihat senyum mereka di Bandara Frankfurt. ***
Leave a Reply