Maastricht Kota Tua yang Cantik, Ganja yang Legal, dan Jembatan yang Menjadi Tontonan

Maastricht tidak memukau dengan gedung pencakar langit. Ia memikat dengan sungai, batu-batu tua, dan kehidupan yang berjalan tanpa tergesa-gesa

Oleh Stefanus Akim

Jika seseorang meminta saya menyebutkan kesan pertama tentang Maastricht — sebuah kota di Belanda yang berbatasan dengan Jerman — saya mungkin akan menjawab sederhana.

Kota ini cantik.

Sangat cantik.

Tetapi bukan kecantikan yang berteriak-teriak minta diperhatikan.

Ia cantik dengan cara yang tenang.

Jalan-jalan batu tua.

Bangunan berusia ratusan tahun.

Kafe-kafe kecil.

Sepeda yang hilir mudik.

Sungai Maas yang membelah kota.

Dan orang-orang yang berjalan santai seolah hidup tidak perlu terburu-buru.

Kami datang ke Maastricht dari Aachen menggunakan bus.

Setelah sebelumnya singgah di apartemen Mega dan suaminya, Abshar.

Sesampainya di kota ini, saya langsung merasa suasananya berbeda dibandingkan kota-kota besar Jerman yang sebelumnya kami kunjungi.

Maastricht terasa lebih santai.

Lebih manusiawi.

Dan mungkin lebih romantis.

Kelebihan Maastricht

Yang paling saya sukai adalah pusat kotanya.

Banyak kawasan yang ramah pejalan kaki.

Kendaraan bermotor tidak mendominasi ruang publik.

Orang berjalan kaki.

Bersepeda.

Duduk-duduk menikmati kopi.

Atau sekadar mengobrol di bangku taman.

Sungai Maas menjadi jantung kehidupan kota.

Di tepian sungai itu orang berolahraga, berjalan santai, atau menikmati sore hari.

Saya juga menyukai bagaimana kota ini berhasil merawat bangunan-bangunan tuanya.

Sejarah tidak dihancurkan untuk diganti gedung baru.

Sebaliknya, sejarah dirawat dan dijadikan bagian dari kehidupan modern.

Mungkin karena itulah Maastricht terasa hidup.

Bukan museum.

Tetapi kota yang terus berjalan sambil membawa masa lalunya.

Kekurangan Maastricht

Namun tentu tidak ada kota yang sempurna.

Sebagai wisatawan dari Indonesia, saya merasakan beberapa hal yang mungkin menjadi kekurangan.

Harga makanan dan kebutuhan sehari-hari terasa cukup mahal.

Apalagi jika dikonversi ke rupiah.

Selain itu, seperti banyak kota wisata Eropa lainnya, pusat kota pada musim liburan bisa dipenuhi wisatawan.

Kadang suasananya menjadi terlalu ramai.

Sebagian sudut kota juga terasa sangat turistik.

Toko suvenir berderet.

Kafe penuh pengunjung.

Dan harga-harga menyesuaikan kantong wisatawan.

Namun mungkin itulah konsekuensi sebuah kota yang indah.

Toko Ganja yang Mengundang Rasa Penasaran

Satu hal yang membuat saya penasaran adalah keberadaan coffeeshop yang menjual ganja secara legal sesuai aturan Belanda.

Sebagai orang Indonesia, tentu pemandangan ini terasa tidak biasa.

Kami tidak masuk.

Saya hanya melihat dari luar.

Namun keberadaannya cukup menarik perhatian.

Maastricht memang pernah terkenal sebagai tujuan wisata ganja bagi warga dari negara-negara tetangga seperti Belgia, Jerman, dan Prancis. Karena itu pemerintah kota pernah menerapkan berbagai aturan untuk membatasi dampak wisata narkotika terhadap kehidupan kota.

Saya tidak tertarik mencoba.

Tetapi sebagai pengunjung, saya melihatnya sebagai bagian dari realitas sosial yang berbeda dengan yang saya kenal di Indonesia.

Setiap negara memiliki pendekatan masing-masing terhadap berbagai persoalan.

Jembatan yang Menjadi Atraksi

Yang paling menarik perhatian saya justru bukan coffeeshop.

Melainkan sebuah jembatan di atas Sungai Maas.

Saat itu banyak orang berdiri menunggu di sekitar tepian sungai.

Awalnya saya tidak mengerti.

Ternyata mereka sedang menunggu sebuah kapal lewat.

Tak lama kemudian bagian jembatan bergerak naik.

Lalu kapal melintas perlahan.

Setelah kapal lewat, jembatan kembali turun dan kendaraan serta pejalan kaki kembali melintas.

Sederhana.

Tetapi menarik.

Bagi warga lokal mungkin hal biasa.

Namun bagi wisatawan seperti saya, itu menjadi tontonan tersendiri.

Saya berdiri cukup lama memperhatikan proses tersebut.

Teknologi yang dibuat untuk kebutuhan sehari-hari ternyata juga bisa menjadi hiburan bagi pelancong.

Bukan Kota VOC

Ada satu hal yang sempat membuat saya penasaran.

Apakah Maastricht merupakan kota awal berdirinya VOC?

Ternyata bukan.

VOC lahir di kawasan Holland, terutama kota-kota pelabuhan seperti Amsterdam dan Middelburg.

Maastricht justru lebih dikenal sebagai kota tua peninggalan Romawi yang berdiri di tepi Sungai Maas dan memiliki sejarah panjang jauh sebelum VOC lahir.

Mungkin karena itulah Maastricht terasa berbeda.

Ia tidak tumbuh dari sejarah pelayaran kolonial.

Ia tumbuh dari sejarah sungai, perdagangan, gereja, benteng, dan peradaban yang telah berlangsung selama hampir dua ribu tahun.

Kota yang Mengajak Berjalan Pelan

Ketika sore mulai turun dan kami bersiap kembali, saya duduk sejenak memandang Sungai Maas.

Air sungai mengalir tenang.

Orang-orang terus berjalan di sepanjang tepian.

Sepeda lalu-lalang.

Kapal sesekali melintas.

Dan kota tua itu tetap berdiri seperti selama ratusan tahun sebelumnya.

Maastricht tidak menawarkan kemegahan yang mencolok.

Ia menawarkan sesuatu yang lebih sederhana.

Kesempatan untuk berjalan pelan.

Duduk lebih lama.

Dan menikmati hidup tanpa tergesa-gesa. ***

Mungkin itulah alasan mengapa begitu banyak orang jatuh cinta pada kota ini.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *