Oleh Stefanus Akim
Ketika saya berjalan di kota-kota Jerman bersama anak-anak saya, banyak orang mungkin melihat hasil akhirnya.
Anak pertama bekerja di Jerman, sebelumnya juga Aur pair dan Ausbildung.
Anak kedua menjalani Ausbildung di Jerman.
Kami bisa berkunjung ke sana dan bertemu keluarga baru.
Namun yang tidak terlihat adalah jalan panjang yang harus dilalui sebelum semua itu terjadi.
Jalan yang penuh air mata, keraguan, keterbatasan ekonomi, bahkan ejekan.
Tangisan karena Bahasa Jerman
Putri sulung kami adalah orang pertama yang memilih jalan itu.
Awalnya ia hanya kursus bahasa Jerman.
Sementara teman-teman sebayanya mulai kuliah.
Ada yang masuk universitas negeri.
Ada yang masuk perguruan tinggi swasta.
Ada yang sudah menikmati kehidupan kampus.
Sedangkan dirinya masih bergelut dengan buku tata bahasa Jerman.
Der.
Die.
Das.
Konjugasi kata kerja.
Kalimat yang panjang dan membingungkan.
Saya masih ingat beberapa kali ia menangis.
Bukan karena malas belajar.
Justru karena sudah belajar keras tetapi merasa bahasa Jerman begitu sulit.
Suatu ketika ia pernah mengeluh.
“Teman-teman sudah kuliah semua. Saya masih kursus bahasa.”
Sebagai orang tua, saya mengerti perasaannya.
Kadang jalan yang berbeda membuat seseorang merasa tertinggal.
Padahal sebenarnya ia sedang menuju tujuan yang berbeda pula.
Gagal, Bangkit, dan Lulus
Jalan menuju Jerman tidak berjalan mulus.
Ia harus mengikuti ujian Goethe lebih dari sekali.
Ada kegagalan.
Ada rasa kecewa.
Namun ia tidak menyerah.
Sedikit demi sedikit ia terus belajar.
Hingga akhirnya berhasil lulus Goethe A2 dari sebelumnya target lulus B1.
Tepat ketika mimpi itu mulai terlihat dekat, dunia dilanda pandemi Covid-19.
Bandara ditutup.
Penerbangan dibatasi.
Ketidakpastian ada di mana-mana.
Kami sempat berpikir mimpi itu akan berhenti.
Ternyata tidak.
Ia hanya tertunda.
Pengantar Makanan Pasien
Sambil menunggu kesempatan ke Jerman terbuka kembali, putri kami bekerja di sebuah perusahaan outsourcing yang melayani distribusi makanan pasien di rumah sakit.
Di situlah muncul kisah yang hingga hari ini masih sering kami ceritakan sambil tertawa.
Karena bekerja di lingkungan rumah sakit, banyak orang mengira ia seorang perawat.
Suatu hari seorang polisi muda mengirim pesan melalui media sosial.
“Halo Dek, perawat ya di Rumah Sakit Antonius?”
Putri kami menjawab jujur.
“Bukan. Saya antar makanan pasien. Catering.”
Setelah itu pesan dari sang polisi mendadak berhenti.
Hilang.
Lenyap.
Tak ada kabar lagi.
Kami tertawa ketika mendengar cerita itu.
Namun cerita menjadi lebih lucu setelah ia berangkat ke Jerman.
Tiba-tiba polisi yang sama kembali aktif menghubungi.
Bahkan meminta nomor WhatsApp.
Entah apa yang berubah.
Mungkin karena lokasi kini bergeser dari Pontianak ke Jerman.
Mungkin juga karena rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.
Yang jelas, kisah itu menjadi bahan candaan keluarga hingga hari ini.
Sang Adik Menjadi Driver Maxim
Jika sang kakak berjuang melalui Au Pair dan Ausbildung, maka adiknya memiliki cerita yang berbeda.
Sebelum berangkat ke Jerman, ia kursus bahasa Jerman di Jakarta.
Ia juga harus mengikuti ujian Goethe hingga dua kali, di Bandung dan Jakarta, sebelum akhirnya berhasil lulus tingkat B1.
Namun sebelum semua itu terjadi, ia pernah menjadi pengemudi motor ojek online Maxim.
Saat mendengar cerita-ceritanya, saya sering terdiam.
Ia pernah berkata kepada saya:
“Dulu saya antar makanan dari restoran-restoran yang enak. Saya cuma bisa mencium aromanya.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi sebagai orang tua, saya memahami maknanya.
Ia bekerja keras.
Mengantar pesanan orang lain.
Sementara dirinya sendiri hidup sangat hemat demi mengejar mimpi.
Baginya, tip seribu rupiah sangat berarti.
Tip lima ratus rupiah pun tetap disyukuri.
Karena semua itu dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Dua Ratus Ribu yang Hilang
Suatu hari ia menjadi korban penipuan.
Ada pelanggan yang meminta dibelikan barang sekaligus token listrik melalui Alfamart.
Setelah transaksi dilakukan, pelanggan menghilang.
Uang sekitar dua ratus ribu rupiah lenyap begitu saja.
Bagi sebagian orang mungkin jumlah itu tidak besar.
Namun bagi seorang pengemudi Maxim, uang itu adalah hasil kerja keras berhari-hari.
Saat pulang ke rumah, ia hanya terbaring di kursi ruang tamu.
Diam.
Kecewa.
Sedih.
Saya masih ingat wajahnya saat itu.
Sebagai orang tua, ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat anak bekerja keras lalu mengalami hal seperti itu.
“Orang Tuamu Tidak Punya Biaya?”
Ada satu cerita lain yang masih saya ingat.
Suatu hari seorang teman sekolah bertemu dengannya di warung kopi.
Teman itu bertanya:
“Kamu kok nggak kuliah? Orang tua mu nggak ada biaya ya?”
Pertanyaan itu mungkin tidak bermaksud jahat.
Tetapi cukup menusuk.
Dan sejujurnya, kami memang bukan keluarga yang memiliki banyak uang.
Kami bukan keluarga kaya.
Kami tidak memiliki tabungan besar.
Tidak ada aset yang bisa dijual dengan mudah.
Namun kami memiliki mimpi.
Dan kami memiliki kemauan untuk berusaha.
Salah satu penolong terbesar dalam perjalanan ini adalah CU Pancur Kasih.
Melalui lembaga koperasi kredit itu, kami memperoleh akses pembiayaan yang membantu mewujudkan langkah-langkah penting menuju Jerman.
Karena itu saya selalu menyimpan rasa terima kasih yang besar.
Bukan hanya kepada CU.
Tetapi juga kepada semua orang yang pernah membantu perjalanan anak-anak kami.
Tidak Ada Jalan Pintas
Hari ini, ketika melihat anak-anak kami menjalani kehidupan mereka di Jerman, saya sering teringat pada semua cerita itu.
Tangisan saat belajar bahasa.
Ujian yang gagal.
Pekerjaan mengantar makanan pasien.
Mengemudi Maxim.
Tip seribu rupiah.
Dua ratus ribu yang hilang karena penipuan.
Ejekan halus dari teman.
Dan pinjaman dari CU.
Semua itu adalah bagian dari perjalanan.
Karena sesungguhnya, mimpi besar jarang lahir dari jalan yang mudah.
Mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya dapatkan sebagai orang tua.
Bahwa keberhasilan sering kali tidak dimulai dari kenyamanan.
Ia dimulai dari keberanian untuk terus berjalan, bahkan ketika jalan di depan tampak sangat panjang. ***
Leave a Reply