Bunga di Bandara Frankfurt

Perjalanan menuju Jerman tidak dimulai di bandara. Ia dimulai di ruang kursus, di atas motor ojek online, dan dalam keberanian untuk terus mencoba.

Oleh Stefanus Akim

Bunga itu masih saya ingat.

Bukan karena bentuknya yang istimewa. Bukan pula karena harganya mahal. Tetapi karena bunga itu menjadi simbol dari sebuah perjalanan panjang yang penuh air mata, kerja keras, kegagalan, dan harapan.

Saat keluar dari area kedatangan Bandara Frankfurt pada musim panas 2025, saya, istri, putri bungsu kami, serta pacar putra kami yang kuliah di Yogyakarta disambut oleh putri sulung kami, calon menantu yang kini telah menjadi menantu, putra kedua kami yang tinggal di Düsseldorf, serta kedua besan kami dari Jerman.

Mereka membawa bunga.

Bunga sungguhan.

Bukan bunga plastik.

Saya sampai tertawa.

“Ini bunga beneran lho, bukan bunga plastik,” kata saya kepada istri.

Setelah menempuh perjalanan panjang Jakarta–Doha–Frankfurt yang memakan waktu lebih dari 17 jam penerbangan dan transit, sambutan sederhana itu terasa begitu hangat.

Di tengah udara musim panas Jerman yang bagi saya masih terasa dingin, saya memegang bunga itu dan tiba-tiba teringat perjalanan panjang anak-anak kami menuju negeri ini.

Karena sesungguhnya, semua ini berawal dari satu kata yang dahulu terdengar asing bagi keluarga kami:

Ausbildung.

Ketika Bahasa Jerman Membuat Air Mata Jatuh

Putri sulung kami adalah orang pertama yang menapaki jalan itu.

Ketika teman-temannya mulai masuk perguruan tinggi, mengenakan jaket almamater, dan sibuk dengan kehidupan kampus, ia justru menghabiskan waktunya di tempat kursus bahasa Jerman.

Tidak mudah.

Bahkan sangat tidak mudah.

Saya masih ingat ada hari-hari ketika ia pulang dengan wajah murung.

Ada masa ketika ia menangis.

Ada saat ketika ia mempertanyakan pilihannya sendiri.

“Teman-teman sudah kuliah semua. Saya masih kursus bahasa.”

Kalimat itu pernah ia ucapkan.

Sebagai orang tua, saya memahami kegelisahannya.

Bahasa Jerman memang tidak mudah dipelajari.

Ada der, die, das.

Ada tata bahasa yang rumit.

Ada struktur kalimat yang terasa jungkir balik bagi orang Indonesia.

Belum lagi ujian Goethe yang menjadi syarat penting untuk melangkah lebih jauh.

Ia harus mengulang ujian.

Belajar lagi.

Mencoba lagi.

Hingga akhirnya berhasil lulus Goethe A2. Ia sebenar-nya mau ambil sertifikat B1, namun ia gagal pada ujian pertama.

Hasil diskusi, ibu-nya menyarankan agar putri sulung kami ujian downgrade, dari B1 ke A2.

Setelah mengantongi sertifikat A2, saat itu kami merasa satu pintu mulai terbuka.

Namun dunia punya rencana lain.

Ketika Covid Datang

Pandemi Covid-19 melanda.

Bandara sepi.

Penerbangan dibatasi.

Negara-negara menutup perbatasan.

Rencana yang sudah disusun terasa seperti akan runtuh.

Kami sempat berpikir bahwa mimpi menuju Jerman akan berhenti sampai di sana.

Namun ternyata tidak.

Mimpi itu hanya tertunda.

Bukan berakhir.

Sambil menunggu kesempatan kembali terbuka, putri kami bekerja di sebuah perusahaan outsourcing yang melayani distribusi makanan pasien di rumah sakit.

Dari pekerjaan sederhana itu lahirlah salah satu cerita keluarga yang sampai sekarang masih membuat kami tertawa.

Polisi yang Salah Sasaran

Karena setiap hari bekerja di lingkungan rumah sakit, banyak orang mengira putri kami adalah seorang perawat.

Suatu hari seorang polisi mengirim pesan melalui media sosial.

“Halo Dek, perawat ya di Rumah Sakit Antonius?”

Putri kami menjawab jujur.

“Bukan. Saya antar makanan pasien.”

Setelah itu?

Sunyi.

Tak ada lagi pesan.

Sang polisi menghilang seperti ditelan bumi.

Kami tertawa saat mendengar kisah itu.

Namun yang lucu, setelah putri kami berada di Jerman, polisi yang sama kembali aktif menghubungi.

Bahkan meminta nomor WhatsApp.

Entah apa yang berubah.

Mungkin lokasi.

Mungkin nasib.

Atau mungkin Jerman memang terdengar lebih menarik daripada ruang distribusi makanan pasien.

Kami hanya tertawa mendengarnya.

Jalan Bernama Au Pair dan Ausbildung

Setelah pandemi mereda, akhirnya kesempatan itu datang.

Putri kami berangkat ke Jerman melalui program Au Pair.

Program ini memungkinkan pemuda atau pemudi tinggal bersama keluarga Jerman sambil membantu mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah tangga ringan.

Sebagai gantinya, mereka mendapatkan tempat tinggal, uang saku, kesempatan belajar bahasa, dan pengalaman budaya.

Setelah satu tahun menjalani Au Pair, ia melanjutkan ke jalur yang sejak awal menjadi tujuannya.

Ausbildung.

Sistem pendidikan vokasi khas Jerman yang menggabungkan sekolah dan praktik kerja.

Pesertanya belajar sekaligus bekerja.

Mereka memperoleh pengalaman nyata dan menerima penghasilan selama masa pelatihan.

Bagi banyak anak muda Jerman, Ausbildung menjadi alternatif yang sangat populer dibandingkan kuliah.

Sang Adik dan Motor Maxim

Jika kakaknya berjuang melalui Au Pair, maka putra kedua kami memiliki cerita yang berbeda.

Ia tidak kursus bahasa Jerman di Pontianak.

Ia berangkat ke Jakarta.

Belajar di sana.

Berjuang di sana.

Dan mengikuti ujian Goethe hingga dua kali, di Bandung dan Jakarta.

Barulah ia berhasil memperoleh sertifikat B1.

Namun sebelum semua itu terjadi, ia pernah menjalani pekerjaan yang sangat jauh dari bayangan hidup di Eropa.

Ia menjadi pengemudi Maxim.

Mengantar makanan.

Mengantar barang.

Mengantar siapa saja yang membutuhkan jasa transportasi.

Suatu hari ia berkata kepada saya:

“Dulu saya lihat makanan yang saya antar itu enak-enak. Saya cuma bisa mencium aromanya.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi sebagai ayah, saya memahami maknanya.

Kadang seseorang bekerja keras membantu orang lain menikmati sesuatu yang bahkan belum bisa ia nikmati sendiri.

Baginya, tip seribu rupiah sangat berarti.

Bahkan lima ratus rupiah pun tetap disyukuri.

Karena semuanya dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Dua Ratus Ribu yang Hilang

Ada hari yang lebih berat.

Suatu ketika ia menerima pesanan yang ternyata berujung penipuan.

Pelanggan meminta dibelikan barang sekaligus token listrik melalui minimarket.

Setelah transaksi selesai, pelanggan menghilang.

Sekitar dua ratus ribu rupiah lenyap.

Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin tidak besar.

Namun bagi seorang pengemudi Maxim, uang itu adalah hasil kerja keras selama berhari-hari.

Saya masih ingat ketika ia pulang ke rumah.

Ia hanya berbaring di kursi ruang tamu.

Diam.

Kecewa.

Sedih.

Sebagai orang tua, melihat anak mengalami hal seperti itu bukanlah perasaan yang menyenangkan.

“Orang Tuamu Tidak Punya Biaya?”

Ada satu cerita lain yang masih membekas.

Suatu hari seorang teman sekolah bertemu dengannya di warung kopi.

Lalu bertanya:

“Kamu kok nggak kuliah? Orang tuamu nggak ada biaya ya?”

Pertanyaan itu mungkin tidak bermaksud jahat.

Tetapi cukup tajam untuk menusuk hati.

Dan sejujurnya?

Kami memang bukan keluarga berada.

Kami tidak memiliki tabungan besar.

Tidak memiliki aset berlimpah.

Tidak memiliki jalan pintas menuju Eropa.

Namun kami memiliki mimpi.

Dan kami memiliki kemauan untuk berusaha.

Dalam perjalanan itu, kami juga mendapatkan bantuan dari CU Pancur Kasih.

Melalui lembaga koperasi kredit tersebut, kami bisa memperoleh dukungan pembiayaan untuk berbagai kebutuhan penting.

Karena itu saya selalu menyimpan rasa terima kasih yang besar.

Kadang sebuah mimpi memang tidak diwujudkan sendirian.

Ia lahir dari gotong royong banyak orang yang percaya bahwa masa depan bisa diperjuangkan.

Dari FSJ Menuju Ausbildung

Jalan putra kami menuju Ausbildung juga tidak langsung.

Sesampainya di Jerman, ia lebih dahulu mengikuti FSJ (Freiwilliges Soziales Jahr), yaitu program tahun sukarela sosial yang biasanya dilakukan di rumah sakit, panti jompo, sekolah, atau lembaga pelayanan masyarakat.

Melalui FSJ, peserta belajar bahasa, budaya, sekaligus dunia kerja Jerman.

Setelah itu ia masuk ke Ausbildung.

Jalannya lebih panjang.

Tetapi mungkin justru karena panjang itulah ia menjadi lebih kuat.

Kembali ke Frankfurt

Saat menerima bunga di Bandara Frankfurt hari itu, semua cerita tersebut tiba-tiba melintas dalam pikiran saya.

Tangisan saat belajar bahasa Jerman.

Ujian Goethe yang harus diulang.

Pandemi Covid.

Pekerjaan mengantar makanan pasien.

Polisi yang salah mengira perawat.

Motor Maxim.

Tip seribu rupiah.

Dua ratus ribu yang hilang karena penipuan.

Pertanyaan yang menyakitkan di warung kopi.

Pinjaman dari CU.

Dan keberanian untuk terus berjalan.

Orang sering melihat hasil akhir.

Mereka melihat anak-anak kami kini berada di Jerman.

Mereka melihat foto-foto perjalanan kami.

Mereka melihat senyum dan kebahagiaan.

Tetapi tidak semua orang melihat jalan panjang yang harus ditempuh untuk sampai ke sana.

Karena sesungguhnya, perjalanan ke Jerman tidak dimulai ketika pesawat lepas landas dari Jakarta.

Perjalanan itu dimulai bertahun-tahun sebelumnya.

Di ruang kursus yang sederhana.

Di atas motor Maxim.

Di ruang distribusi makanan rumah sakit.

Di ruang ujian Goethe.

Dan di dalam hati anak-anak yang memilih untuk tidak menyerah pada mimpi mereka.

Maka ketika saya memegang bunga itu di Bandara Frankfurt, saya tahu bahwa yang sedang saya genggam bukan sekadar setangkai bunga.

Ia adalah simbol dari ketekunan, kerja keras, dan harapan yang akhirnya sampai di tujuan.


Orang melihat anak-anak kami tiba di Jerman. Yang tidak mereka lihat adalah air mata saat belajar bahasa, tip seribu rupiah dari Maxim, dan mimpi yang terus dijaga meski berkali-kali diuji.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *