Perempuan yang Menopang Mimpi

Oleh Stefanus Akim

Warisan terbesar seorang ibu bukanlah harta, melainkan ketangguhan yang diam-diam diteladankan setiap hari

Jika hari ini kedua anak kami bisa menempuh jalan hidup mereka di Jerman, saya tahu ada banyak orang yang ikut berperan dalam perjalanan itu.

Ada guru bahasa Jerman yang sabar mengajar. Ada teman-teman yang memberi dukungan. Ada keluarga yang membantu. Ada lembaga seperti CU Pancur Kasih yang membuka jalan ketika kami membutuhkan biaya.

Namun jika harus menyebut satu orang yang paling besar perannya, saya akan menyebut nama istri saya.

Ibu dari anak-anak kami.

Perempuan yang tidak banyak bicara, tetapi diam-diam menjadi tiang penyangga keluarga.

Ia bukan tipe orang yang gemar mengeluh.

Bukan pula orang yang suka memamerkan pengorbanannya.

Sebaliknya, banyak hal baru kami sadari setelah semuanya berlalu.

Ketika anak-anak masih berjuang mengejar mimpi ke Jerman, hidup kami sebenarnya sangat biasa saja. Kami bukan keluarga kaya. Tidak ada tabungan besar yang siap digunakan sewaktu-waktu. Tidak ada aset melimpah yang bisa dijual untuk membiayai kursus bahasa, ujian Goethe, pengurusan dokumen, tiket pesawat, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Tetapi ada satu hal yang kami miliki.

Kemauan untuk berjuang.

Dan dalam hal itu, istri saya berada di barisan paling depan.

Selama bertahun-tahun ia bekerja sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit. Jam kerjanya tidak selalu nyaman. Sistem shift membuat ritme hidup sering berubah. Kadang pagi. Kadang siang. Kadang malam.

Namun pekerjaan di rumah sakit ternyata belum cukup.

Setelah menyelesaikan tugas utamanya, ia masih mengambil pekerjaan tambahan.

Orang Jerman menyebutnya Nebenjob.

Ia bekerja sebagai perawat homecare, mendatangi rumah-rumah pasien untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Ketika banyak orang selesai bekerja lalu pulang beristirahat, ia justru melanjutkan pekerjaan kedua.

Jika dihitung, ada hari-hari ketika total jam kerjanya mencapai empat belas jam dalam sehari.

Empat belas jam.

Angka yang mudah ditulis tetapi tidak mudah dijalani.

Saya sering melihat sendiri bagaimana lelahnya ia ketika pulang ke rumah.

Kadang ia langsung tertidur begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur.

Tidurnya begitu pulas.

Saking lelahnya, dengkurannya terdengar jelas dari kamar sebelah.

Saya dan anak-anak sering hanya saling memandang.

Ada rasa iba yang sulit dijelaskan.

Kami tahu tubuh itu sedang bekerja melampaui batas kenyamanannya.

Tetapi kami juga tahu alasan di balik semua itu.

Ia sedang berjuang untuk masa depan anak-anak.

Bahkan karena terlalu lelah, kadang langkahnya tidak lagi setegap biasanya.

Sesekali ia tersandung batu kecil atau hampir kehilangan keseimbangan saat berjalan.

Di rumah kami punya istilah sendiri untuk keadaan itu.

Kami menyebutnya tapilantok.

Bahasa kampung yang kurang lebih menggambarkan orang yang tersandung atau terantuk karena kelelahan atau kurang awas.

Kami sering menggodanya.

Ia hanya tertawa.

Lalu esok harinya bekerja lagi.

Saya pernah beberapa kali meminta agar ia mengurangi pekerjaan tambahan.

Menurut saya, kesehatan lebih penting.

Tetapi jawabannya hampir selalu sama.

“Supaya anak-anak ada biaya berangkat ke Jerman.”

Kalimat itu sederhana.

Tidak panjang.

Tetapi menyimpan kekuatan yang luar biasa.

Ia rela menunda banyak keinginan pribadinya.

Bertahun-tahun saya jarang melihatnya membeli pakaian baru.

Kosmetik bukan prioritas.

Sepatu baru pun bukan kebutuhan mendesak.

Jika ada uang lebih, pikirannya langsung melompat kepada kebutuhan anak-anak.

Biaya kursus.

Biaya ujian.

Biaya dokumen.

Biaya keberangkatan.

Biaya hidup.

Dan berbagai kebutuhan lain yang tidak pernah sedikit.

Sebagai suami, saya sering merasa kagum sekaligus terharu.

Karena pengorbanan seperti itu sering kali tidak terlihat.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada penghargaan.

Tidak ada berita yang menulis tentangnya.

Semua dilakukan dalam diam.

Namun dampaknya terasa hingga bertahun-tahun kemudian.

Saya percaya ketangguhan anak-anak kami hari ini tidak muncul begitu saja.

Mereka mewarisinya dari ibu mereka.

Mereka tumbuh dengan melihat contoh setiap hari.

Melihat seseorang yang bekerja keras tanpa banyak mengeluh.

Melihat seseorang yang tetap berdiri meski lelah.

Melihat seseorang yang lebih memikirkan masa depan anak-anaknya daripada kenyamanan dirinya sendiri.

Mungkin itulah sebabnya mereka berani merantau jauh.

Berani hidup ribuan kilometer dari rumah.

Berani menghadapi bahasa asing, budaya baru, musim dingin yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, dan berbagai tantangan hidup di negeri orang.

Karena sejak kecil mereka sudah belajar satu hal penting.

Bahwa mimpi tidak datang dengan sendirinya.

Mimpi harus diperjuangkan.

Ketika akhirnya kami berkesempatan datang ke Jerman menghadiri pernikahan putri kami, saya melihat wajah istri saya yang berbeda.

Ia begitu bahagia.

Begitu bersemangat.

Menikmati setiap perjalanan.

Menikmati kota-kota yang kami kunjungi.

Menikmati pertemuan dengan anak-anak.

Menikmati setiap momen yang selama ini hanya hadir dalam doa dan harapan.

Dan saya merasa perjalanan itu bukan hanya tentang menghadiri pernikahan.

Perjalanan itu juga merupakan hadiah kecil untuk seorang ibu yang selama bertahun-tahun bekerja tanpa banyak bicara.

Hadiah untuk seorang perempuan yang mungkin tidak pernah meminta penghargaan apa pun.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah keluarga sering kali tidak dibangun oleh orang yang paling banyak berbicara.

Ia dibangun oleh orang yang diam-diam bekerja, diam-diam berkorban, dan diam-diam memastikan semua orang bisa terus melangkah.

Di keluarga kami, orang itu adalah istri saya.

Dan saya yakin, banyak keluarga lain juga memiliki sosok serupa.

Perempuan-perempuan tangguh yang tidak pernah tampil di depan panggung, tetapi justru menjadi alasan mengapa keluarga mereka bisa berdiri kokoh hingga hari ini. ***


Ia jarang membeli pakaian baru, jarang membeli sepatu baru, tetapi tak pernah ragu mengeluarkan tenaga dan waktunya demi masa depan anak-anak.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *