Di rumah kami sedang ada pekerjaan kecil-kecilan. Tidak besar, hanya memasang dek rumah, membuat atap garasi sederhana dari kayu dan spandek, serta memperbaiki beberapa bagian atap yang bocor.
Namun dari pekerjaan yang tampak sederhana itu, saya justru belajar sesuatu yang berharga dari seorang tukang yang kami panggil “Si Bisu”.
Oh iya, pembaca harap maklum dengan penyebutan Si Bisu ya, ini bukan untuk mengolok-olok atau streotip atau apa pun itu yang negatif.
Beliau ssudah menjadi semacam langganan nukang di kompleks kami, dan semua memanggil seperti itu. Sekali lagi maaf.
Saya tidak tahu sejak kapan ia menekuni pekerjaan pertukangan. Yang jelas, setiap kali melihatnya bekerja, saya selalu kagum. Ia mengukur dengan meteran berkali-kali, memastikan setiap potongan kayu pas pada tempatnya. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan asal jadi. Semuanya dikerjakan dengan teliti dan presisi.
Kesan itu semakin kuat karena saya pernah mengalami sendiri betapa pentingnya pekerjaan yang rapi.
Pada Januari 2026 lalu, saat kami pulang dari liburan di Bali, kami terkejut melihat kamar dipenuhi air. Atap yang bocor ternyata tidak mampu menahan hujan deras selama kami pergi. Sebagian lantai tergenang. Perabot harus dipindahkan. Kami hanya bisa membayangkan bagaimana jika kebocoran itu terus dibiarkan.
Beruntung kemudian ada Si Bisu yang memperbaikinya.
Sejak itu, setiap hujan turun, rasa waswas kami berkurang. Kami tidak lagi sibuk mengecek ember atau lap yang harus disiapkan untuk menampung tetesan air dari plafon. Ia memperbaiki kebocoran itu dengan baik.
Yang membuat saya semakin menghargainya adalah etos kerjanya.
Ia hampir tidak pernah mengeluh. Tidak banyak protes. Tidak banyak bicara tentu saja, tetapi sikapnya menunjukkan kesungguhan. Saat bekerja, ia bekerja. Saat istirahat, ia beristirahat secukupnya.
Saya jarang melihatnya memperpanjang waktu istirahat atau sengaja memperlambat pekerjaan agar proyek berlangsung lebih lama. Ia datang, bekerja, lalu menyelesaikan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Di zaman ketika sebagian orang kadang lebih pandai mencari alasan daripada mencari solusi, saya melihat sesuatu yang berbeda pada dirinya.
Ia memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar, tetapi tidak memiliki keterbatasan dalam tanggung jawab.
Memang ada satu hal yang sering membuat saya tersenyum sekaligus mengelus dada.
Ia tidak suka barang kualitas nomor dua, apalagi nomor tiga.
Karena saya mempercayainya membeli bahan bangunan sendiri, ia selalu memilih material yang menurutnya paling baik. Saat membeli spandek untuk atap misalnya, ia memilih yang lebih tebal dan tentu lebih mahal.
Ketika melihat nota pembelian, saya sempat berpikir dalam hati, “Waduh, boncos juga.”
Namun setelah melihat hasil pekerjaannya, saya mulai mengerti cara berpikirnya. Ia tidak ingin membuat sesuatu yang cepat rusak. Ia lebih memilih pekerjaan yang bertahan lama meskipun biaya awalnya lebih besar.
Mungkin baginya, kualitas adalah bentuk penghormatan kepada pekerjaan itu sendiri.
Suatu hari, ketika kami berbincang menggunakan bahasa isyarat sederhana, ia bercerita tentang masa lalunya.
Ia pernah menjadi korban kerusuhan sosial di Kalimantan Barat.
Dengan gerakan tangan dan ekspresi wajah yang pelan-pelan saya pahami, ia menceritakan bagaimana dulu ia berlari menyelamatkan diri dalam ketakutan. Saat itu tulang keringnya terluka. Ia lalu menunjukkan bekas luka yang masih terlihat hingga sekarang.
Saya terdiam.
Bekas luka itu bukan hanya bekas luka fisik. Ia seperti menyimpan cerita tentang ketakutan, kehilangan, dan masa-masa ketika manusia saling memandang sebagai musuh.
Mendengar kisah itu membuat saya sedih.
Saya berharap peristiwa-peristiwa kelam seperti itu tidak pernah lagi terjadi di Kalimantan Barat maupun di mana pun. Tidak ada pembangunan yang lebih penting daripada menjaga kemanusiaan dan kedamaian.
Menariknya, sosok Si Bisu juga mengingatkan saya kepada almarhum paman kami.
Paman saya juga seorang penyandang tuna wicara. Tubuhnya tidak besar. Namun tangannya seolah memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia pandai membangun rumah, membuat perahu bermotor sederhana, bahkan merakit senapan lantak untuk berburu.
Apa pun yang dibuatnya hampir selalu rapi dan kuat.
Dari almarhum paman itulah saya pertama kali belajar bahasa isyarat sederhana. Bukan bahasa isyarat formal yang diajarkan di sekolah, melainkan bahasa sehari-hari yang tumbuh dari kebiasaan keluarga.
Karena itulah, ketika Si Bisu datang bekerja di rumah kami, komunikasi terasa lebih mudah. Kami bisa bercakap-cakap dengan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan sesekali tulisan di telepon genggam.
Saya sering berpikir, mungkin banyak orang melihat keterbatasan yang dimiliki Si Bisu.
Tetapi saya justru melihat kelebihannya.
Saya melihat ketelitian.
Saya melihat kejujuran dalam bekerja.
Saya melihat tanggung jawab.
Saya melihat ketekunan.
Dan saya melihat seorang manusia yang terus bertahan menjalani hidup setelah melewati masa-masa sulit.
Kadang-kadang kehidupan mengirimkan guru-guru yang tidak pernah berdiri di depan kelas. Mereka tidak menulis buku. Mereka tidak memberi ceramah.
Mereka hanya bekerja dengan tekun setiap hari.
Dan dari merekalah kita belajar bahwa kualitas, tanggung jawab, dan ketulusan sering kali berbicara jauh lebih lantang daripada kata-kata.
Bahkan dari seorang yang tak dapat mengucapkannya. ***
