Menjelajah Jerman dengan DB: Naik Kereta dari Wittlich ke Düsseldorf, Köln, Dortmund, dan Cochem

Di Jerman, kereta bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah jendela berjalan yang memperlihatkan desa, sungai, ladang, dan kehidupan yang mengalir di antara kota-kota.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama berada di Jerman bukanlah ketika saya berdiri di depan kastel tua, mengunjungi stadion sepak bola, atau berjalan di tepi Sungai Mosel.

Melainkan ketika duduk di dalam kereta.

Memandang keluar jendela.

Melihat ladang-ladang hijau, desa-desa kecil, hutan, sungai, dan kota-kota yang silih berganti.

Di Jerman, perjalanan dengan kereta bukan sekadar cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ia menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

Dan hampir semua perjalanan kami dilakukan dengan bantuan Deutsche Bahn atau yang lebih dikenal dengan singkatan DB.

Mengenal Deutsche Bahn

Bagi orang Indonesia, mungkin DB dapat diibaratkan sebagai gabungan antara KAI, operator bus, dan sebagian sistem transportasi regional.

Melalui aplikasi DB, seseorang tidak hanya dapat membeli tiket kereta api, tetapi dalam banyak rute juga dapat membeli tiket yang terintegrasi dengan bus lokal, trem, maupun transportasi regional lainnya.

Semua terasa cukup praktis.

Kita cukup memasukkan titik keberangkatan dan tujuan.

Aplikasi akan menampilkan berbagai pilihan perjalanan.

Jika harus berganti kereta, informasi tersedia dengan jelas.

Jika harus melanjutkan perjalanan menggunakan bus, semuanya juga sudah tercantum.

Bagi wisatawan seperti saya, sistem ini sangat membantu.

Meski sesekali tetap membuat deg-degan ketika waktu transit hanya beberapa menit.

Berangkat dari Wittlich

Selama berada di Jerman, kami tinggal di Lüxem, sebuah desa kecil di wilayah Wittlich.

Karena Lüxem tidak memiliki stasiun kereta besar, biasanya kami berangkat dari Stasiun Wittlich.

Stasiun itu tidak terlalu besar dibandingkan stasiun-stasiun utama di kota besar.

Namun tertata rapi dan efisien.

Penumpang datang sesuai kebutuhan.

Tidak terlalu ramai.

Tidak pula sepi.

Saya masih ingat perasaan ketika pertama kali berdiri di peron.

Tidak ada pedagang asongan.

Tidak ada suara pengeras yang berteriak-teriak.

Tidak ada hiruk-pikuk yang berlebihan.

Orang-orang datang dengan tenang.

Menunggu kereta.

Lalu naik ketika kereta tiba.

Semua berjalan seperti rutinitas yang sudah dipahami bersama.

Menuju Düsseldorf

Salah satu perjalanan kami adalah menuju Düsseldorf.

Perjalanan ini membawa kami keluar dari kawasan pedesaan Rheinland-Pfalz menuju salah satu kota besar di Jerman.

Sepanjang perjalanan, pemandangan berubah perlahan.

Ladang dan desa-desa kecil mulai berganti dengan kawasan perkotaan yang lebih padat.

Bangunan semakin rapat.

Rel semakin sibuk.

Dan jumlah penumpang bertambah.

Saya menikmati perjalanan itu seperti menonton film dokumenter yang bergerak di balik jendela.

Tidak perlu terburu-buru.

Tidak perlu menyetir.

Tinggal duduk dan menikmati.

Mengunjungi Köln

Perjalanan lain membawa kami ke atau Köln.

Kota ini terkenal dengan Katedral Köln yang menjulang tinggi di dekat stasiun utama.

Bagi saya, salah satu hal yang menarik adalah bagaimana kereta menjadi bagian penting dari kehidupan kota.

Begitu keluar dari stasiun, kita langsung berada di tengah denyut kehidupan perkotaan.

Tidak perlu naik kendaraan lain terlalu jauh.

Banyak tujuan dapat dicapai dengan berjalan kaki atau transportasi umum lanjutan.

Saya mulai memahami mengapa banyak orang Jerman tidak terlalu bergantung pada mobil ketika tinggal di kota besar.

Dortmund dan Kota Sepak Bola

Sebagai penggemar sepak bola, tentu menarik ketika akhirnya saya bisa mengunjungi Dortmund.

Kota yang identik dengan klub sepak bola ini memiliki jaringan transportasi yang sangat baik.

Kereta membawa penumpang langsung ke pusat kota dengan mudah.

Di sepanjang perjalanan saya beberapa kali memperhatikan para penumpang mengenakan syal atau atribut klub sepak bola.

Di Jerman, sepak bola memang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menyusuri Mosel ke Cochem

Namun mungkin perjalanan kereta yang paling indah adalah menuju Cochem.

Rute ini seperti hadiah bagi para penumpang.

Kereta bergerak mengikuti lembah Sungai Mosel.

Kadang sungai terlihat jelas dari jendela.

Kadang menghilang di balik perbukitan yang dipenuhi kebun anggur.

Desa-desa kecil muncul satu demi satu.

Rumah-rumah tua berdiri di tepi sungai.

Gereja-gereja kecil tampak di kejauhan.

Dan sesekali terlihat kastel yang berdiri di atas bukit.

Perjalanan itu membuat saya beberapa kali lupa bahwa saya sedang berada dalam transportasi umum.

Rasanya lebih seperti mengikuti tur wisata.

Ketika akhirnya tiba di Cochem dan melihat keindahan kota tua itu, saya merasa perjalanan keretanya sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman yang layak dikenang.

Kereta yang Mengajarkan Kesabaran

Tentu saja tidak semua perjalanan berjalan sempurna.

Ada beberapa kali kereta terlambat beberapa menit.

Ada pula saat kami harus berpindah peron dengan cepat karena waktu transit yang singkat.

Namun secara keseluruhan, pengalaman menggunakan DB membuat saya memahami bagaimana transportasi publik dapat menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat.

Kereta menghubungkan desa kecil dengan kota besar.

Menghubungkan pekerja dengan tempat kerjanya.

Menghubungkan mahasiswa dengan kampusnya.

Dan dalam kasus saya, menghubungkan seorang wisatawan dari Kalimantan dengan berbagai pengalaman baru di Jerman.

Ketika mengingat perjalanan-perjalanan itu, saya tidak hanya mengingat kota tujuan.

Saya juga mengingat kursi kereta yang nyaman.

Jendela besar yang memperlihatkan lanskap Jerman.

Serta perasaan tenang saat melihat dunia bergerak perlahan di luar sana.

Karena terkadang, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dituju.

Melainkan tentang apa yang kita lihat dan rasakan di sepanjang jalan menuju ke sana. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *