Kami bertemu karena blog, dipersatukan oleh ruang redaksi, dan dipertahankan oleh secangkir kopi serta obrolan persahabatan
Ada orang yang pandai berbicara tentang dirinya sendiri. Ada pula orang yang lebih memilih membiarkan karyanya berbicara. Severianus Endi termasuk dalam kelompok kedua.
Saya mengenal Endi bukan dari ruang redaksi, bukan pula dari seminar jurnalistik atau forum diskusi profesional. Kami bertemu melalui dunia yang kini mungkin mulai dianggap kuno oleh generasi media sosial: blog.
Sekitar tahun 2006, ketika demam blog sedang melanda Indonesia, kami sama-sama aktif menulis dan saling mengenal lewat dunia maya. Saat itu blog menjadi ruang kreatif bagi banyak anak muda yang gemar menulis, berdiskusi, dan berbagi gagasan. Dari sanalah perkenalan kami bermula.
Siapa sangka, dua tahun kemudian, pada 2008, kami kembali dipertemukan dalam dunia nyata. Kami sama-sama mengikuti pelatihan di Tribun Pontianak, media yang baru akan lahir di Kalimantan Barat sebagai bagian dari jaringan Kompas Gramedia. Kami bahkan termasuk angkatan pertama yang direkrut sebelum surat kabar itu resmi terbit.
Masa-masa awal itu penuh cerita. Kami bukan hanya belajar menjadi wartawan. Kami juga ikut merasakan bagaimana sebuah media dibangun dari nol. Pernah suatu hari kami bersama-sama mengangkat komputer, meja, dan berbagai perlengkapan kantor saat proses pindahan dari bangunan lama ke gedung baru. Jaraknya memang tidak jauh, hanya dari depan ke belakang, tetapi pengalaman itu menjadi bagian dari kenangan yang sulit dilupakan.
Di ruang redaksi yang sederhana itulah banyak persahabatan terbentuk, termasuk persahabatan saya dengan Endi.
Dalam perjalanan karier, jalan kami kemudian berpisah. Endi memilih meninggalkan Tribun Pontianak lebih dahulu. Ia mengembara ke berbagai media nasional dan organisasi non-pemerintah (NGO), memperluas pengalaman serta memperkaya perspektifnya. Sementara saya tetap bertahan lebih lama sebelum akhirnya menyusul mengundurkan diri pada 31 Desember 2025.
Namun persahabatan itu tetap terjaga.
Hingga hari ini, kami masih sering bertemu di warung kopi. Menariknya, pertemuan-pertemuan itu jarang diisi pembicaraan yang terlalu serius. Kami tidak selalu membahas politik, ekonomi, atau isu-isu besar yang sedang menjadi perhatian publik. Kadang kami hanya bercakap santai tentang kehidupan, teknologi, media sosial, atau hal-hal ringan yang membuat pikiran kembali segar setelah penat bekerja.
Barangkali di situlah letak nilai sebuah persahabatan: tidak selalu harus menghasilkan keputusan penting atau ide besar. Kadang cukup menjadi ruang untuk bernapas dan menertawakan kehidupan.
Secara profesional, Severianus Endi merupakan sosok yang memiliki rekam jejak panjang di dunia jurnalistik dan komunikasi. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini dikenal melalui berbagai karya yang terbit di media nasional maupun internasional. Tulisannya tidak hanya merekam berbagai peristiwa penting di Kalimantan Barat, tetapi juga mengangkat isu lingkungan, budaya Dayak, kehidupan masyarakat perbatasan, serta upaya-upaya menjaga toleransi di tengah keberagaman.
Melalui tulisannya di media seperti The Jakarta Post dan UCA News, Endi membawa kisah-kisah dari Borneo ke panggung yang lebih luas. Ia menulis tentang pemimpin adat Dayak, perjuangan masyarakat menjaga hutan, dampak kabut asap terhadap kesehatan warga, hingga berbagai dinamika sosial yang membentuk wajah Kalimantan Barat.
Namun jika ada satu hal yang paling saya kagumi dari dirinya, itu bukan semata kemampuan menulis.
Di tengah perubahan dunia media yang begitu cepat, Endi terus belajar. Ia memahami perkembangan website, strategi media sosial, pengelolaan konten digital, hingga berbagai perangkat komunikasi modern yang kini menjadi kebutuhan penting di era digital.
Saya termasuk orang yang banyak belajar darinya. Website pribadi saya pun lahir berkat sentuhan tangan dan pemikirannya. Ketika saya menghadapi berbagai persoalan teknis terkait pengelolaan website atau media sosial, Endi sering menjadi tempat bertanya yang sabar.
Yang menarik, ia tidak pernah berusaha menjual kemampuan itu secara berlebihan.
Di zaman ketika banyak orang sibuk membangun personal branding dan mempromosikan diri, Endi tetap tampil sederhana. Ia lebih suka bekerja daripada berbicara tentang pekerjaannya. Ia lebih senang menghasilkan sesuatu daripada memamerkannya.
Padahal, jika melihat kemampuan yang dimilikinya saat ini—mulai dari jurnalistik, penulisan laporan, komunikasi organisasi, pengelolaan website, hingga strategi media sosial—bukan hal yang berlebihan jika mengatakan bahwa ia memiliki kapasitas untuk bekerja secara remote bagi perusahaan internasional dengan bayaran dalam mata uang dolar Amerika.
Tetapi mungkin memang bukan itu yang sedang dikejarnya.
Ada orang yang mengejar sorotan. Ada pula yang memilih menghasilkan cahaya tanpa perlu berdiri di bawahnya.
Severianus Endi tampaknya termasuk golongan terakhir.
Di balik sikapnya yang tenang, kalem, dan nyaris tidak pernah membanggakan diri, tersimpan pengalaman panjang, keterampilan yang terus berkembang, serta dedikasi untuk bercerita tentang Kalimantan dan masyarakatnya.
Bagi saya, Endi bukan hanya seorang jurnalis. Ia adalah teman seperjalanan yang telah ikut menyaksikan perubahan dunia media dari era blog, koran cetak, hingga media digital. Kami pernah sama-sama memulai dari ruang redaksi kecil, mengangkat meja dan komputer, belajar menjadi wartawan, lalu menempuh jalan masing-masing.
Dan hingga hari ini, di sebuah warung kopi yang sederhana, persahabatan itu masih berlanjut—ditemani secangkir kopi, obrolan ringan, dan tawa yang membuat hidup terasa sedikit lebih ringan. ***
Leave a Reply