Sejarah tidak selalu tertulis di buku. Kadang ia tersimpan dalam bekas luka yang dibawa seseorang seumur hidup
Saat melihatnya bekerja memasang atap dan mengukur kayu dengan teliti, sulit membayangkan bahwa puluhan tahun lalu ia pernah berlari menyelamatkan diri dari amuk kerusuhan.
Pria yang kami panggil Si Bisu itu kini tinggal di Pontianak. Ia bekerja sebagai tukang bangunan. Tangannya terampil. Gerakannya cepat dan pasti. Namun di balik kehidupannya hari ini, tersimpan kisah panjang yang baru saya dengar pada tahun 2026.
Melalui bahasa isyarat sederhana, ia bercerita tentang masa remajanya.
Ketika kerusuhan sosial melanda Kalimantan Barat pada rentang 1998 hingga 2000, ia masih seorang remaja kampung. Kehidupannya saat itu jauh dari hiruk-pikuk kota.
Ia menoreh karet.
Ia berladang.
Ia mengarit rumput untuk sapi.
Ia memelihara ternak.
Kadang ia juga bekerja di sawmill atau tempat penggergajian kayu.
Hidupnya sederhana seperti banyak remaja pedesaan lainnya. Bekerja membantu keluarga, dekat dengan alam, dan menjalani hari-hari tanpa banyak tuntutan.
Sampai suatu ketika semuanya berubah.
Kerusuhan datang.
Ia mengingat bagaimana warga berlarian menyelamatkan diri. Dalam kepanikan itu, ia ikut berlari menghindari amuk massa.
Saat itulah ia terjatuh.
Tulang kering kaki kanannya menghantam sesuatu hingga terluka cukup parah. Bekas luka memanjang itu masih terlihat hingga sekarang.
Lebih dari dua puluh lima tahun telah berlalu, tetapi jejak peristiwa itu masih melekat di tubuhnya.
Ia menunjuk bekas luka tersebut ketika bercerita.
Tidak banyak kata yang bisa ia ucapkan. Namun bekas luka itu seolah berbicara sendiri.
Dari bahasa isyarat yang saya pahami, situasi saat itu sangat mencekam. Warga berusaha menyelamatkan diri sementara aparat keamanan berupaya mengendalikan keadaan.
Ia mengingat kedatangan aparat TNI yang datang untuk mengamankan wilayah agar kerusuhan tidak semakin meluas.
Setelah keadaan semakin sulit, ia bersama warga lainnya memutuskan mengungsi ke Pontianak.
Perjalanan itu dilakukan menggunakan motor air.
Ia menggerakkan tangannya seperti sedang mengemudikan motor air ketika menceritakan bagian ini.
Kemudian ia memberi isyarat uang.
Saya memahami maksudnya.
Untuk bisa ikut motor air menuju tempat yang lebih aman, mereka harus membayar.
Masalahnya, saat melarikan diri ia tidak membawa uang.
Ia mengaku kelaparan.
Tidak ada bekal.
Tidak ada persiapan.
Yang ada hanya keinginan untuk selamat.
Ia mengaku beberapa orang yang ia kenal menjadi korban amuk masa.
Saya membayangkan seorang remaja tuna wicara yang harus meninggalkan kampung halaman dalam keadaan takut, lapar, dan tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Tidak semua orang mampu melewati pengalaman seperti itu.
Namun hidup terus berjalan.
Tahun-tahun berlalu.
Anak remaja yang dulu bekerja di ladang, menoreh karet, dan menggembala sapi itu akhirnya menetap di Pontianak.
Di kota inilah ia membangun kehidupan baru.
Ia menikah dengan seorang perempuan keturunan Tionghoa.
Keluarga kecil mereka tumbuh di tengah kota yang jauh dari kampung masa kecilnya.
Kini mereka telah dikaruniai tiga orang anak.
Dua anaknya sudah beranjak besar. Sementara anak bungsunya masih belum memasuki usia sekolah.
Ketika bercerita tentang keluarganya, ekspresi wajahnya berubah. Ada kebanggaan yang sulit disembunyikan.
Mungkin di situlah kemenangan sesungguhnya.
Bukan karena berhasil melupakan masa lalu.
Melainkan karena berhasil tetap hidup, membangun keluarga, dan membesarkan anak-anak setelah melewati masa yang begitu sulit.
Bekas luka itu memang masih ada di tulang keringnya.
Tetapi hidupnya tidak berhenti pada luka itu.
Ia terus berjalan.
Ia terus bekerja.
Ia terus membangun.
Dan setiap kali saya melihatnya memperbaiki rumah orang lain, saya teringat bahwa di balik sosok tukang yang pendiam itu tersimpan kisah seorang penyintas yang pernah kehilangan rasa aman, namun tidak kehilangan harapan. ***
Bekas luka di tubuh mungkin tidak hilang, tetapi kebencian tidak harus diwariskan
