Ada tempat-tempat yang hilang dari peta kehidupan kita, tetapi tidak pernah hilang dari ingatan
Saat usianya sekitar sembilan atau sepuluh tahun, ladang adalah salah satu tempat yang paling sering didatanginya bersama Nenek.
Hampir setiap minggu ia mengikuti perempuan tua itu berjalan menyusuri jalan setapak menuju ladang. Namun di antara semua perjalanan masa kecilnya, ada satu tempat yang selalu membuatnya bersemangat.
Kebun kopi.
Kebun itu tidak luas.
Tidak seperti perkebunan-perkebunan besar yang kemudian ia lihat dalam foto atau televisi.
Hanya beberapa petak kecil yang ditanam di sela-sela batang karet dan di pinggir parit.
Tetapi bagi Nenek, kebun kopi itu sudah lebih dari cukup.
Dari sanalah kebutuhan kopi keluarga terpenuhi.
Nenek hampir tidak pernah membeli kopi dari warung.
Setiap musim panen tiba, pohon-pohon kopi itu menyediakan apa yang mereka perlukan.
Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat.
Kabut masih menggantung rendah di antara pepohonan.
Rumput-rumput basah oleh embun.
Sesekali kaki mereka menyentuh daun-daun yang masih menyimpan sisa hujan malam.
Ia selalu berjalan di belakang Nenek.
Kadang berlari kecil mengejar langkah perempuan tua itu.
Kadang berhenti karena tertarik melihat kupu-kupu atau burung yang melintas di antara semak-semak.
Begitu tiba di kebun kopi, ia selalu melakukan hal yang sama.
Menghirup udara dalam-dalam.
Aroma bunga kopi.
Aroma yang lembut.
Manis.
Dan entah mengapa selalu membuatnya merasa tenang.
Saat bunga-bunga kopi bermekaran, seluruh kebun seperti memiliki wangi yang berbeda dari tempat lain.
Bukan harum yang mencolok.
Melainkan wangi yang pelan, seperti seseorang yang menyapa tanpa meninggikan suara.
Ia menyukai aroma itu.
Sampai hari ini.
Di antara pohon-pohon kopi yang tidak terlalu tinggi, burung-burung kecil sering datang.
Mereka melompat dari satu dahan ke dahan lain.
Kadang berhenti sejenak lalu terbang kembali.
Kicauan mereka berpadu dengan suara angin yang bergerak di antara daun-daun kopi.
Bagi anak kecil itu, kebun kopi adalah tempat yang hidup.
Penuh suara.
Penuh aroma.
Penuh keajaiban-keajaiban kecil yang sering luput dari perhatian orang dewasa.
Nenek juga tidak membiarkannya hanya bermain.
Ia dibuatkan katoro, wadah sederhana untuk menampung buah kopi yang dipetik.
Katoro itu tidak besar.
Sesuai ukuran tubuh seorang anak.
Namun baginya, benda itu terasa istimewa.
Karena dengan katoro itu ia merasa menjadi bagian dari pekerjaan orang-orang dewasa.
Ia memetik buah kopi yang sudah merah.
Memasukkannya ke dalam katoro.
Lalu dengan bangga memperlihatkan hasilnya kepada Nenek.
Kadang hasil petikannya sedikit.
Kadang banyak.
Tetapi Nenek selalu tersenyum.
Seolah setiap buah kopi yang dipetik cucunya adalah sesuatu yang patut dihargai.
Hari-hari seperti itu berlalu tanpa disadari.
Musim berganti.
Tahun demi tahun berjalan.
Anak perempuan itu tumbuh dewasa.
Ia meninggalkan kampung.
Menempuh kehidupan yang berbeda.
Hingga akhirnya menetap di kota.
Kini ia tinggal jauh dari kebun kopi itu.
Jauh dari jalan setapak yang dulu dilaluinya bersama Nenek.
Jauh dari aroma tanah basah setelah hujan.
Jauh dari suara burung-burung kecil yang bermain di antara dahan kopi.
Namun ada hal-hal yang tidak ikut pergi.
Kadang ketika sedang berjalan di sebuah pasar atau melewati tempat yang menjual kopi, tiba-tiba ia mencium aroma yang mengingatkannya pada masa kecil.
Aroma bunga kopi.
Hanya sesaat.
Lalu hilang.
Tetapi cukup untuk membuat kenangan kembali berdatangan.
Kenangan tentang Nenek.
Tentang kebun kecil di sela-sela pohon karet.
Tentang katoro yang dibuat khusus untuknya.
Tentang pagi-pagi yang dingin di kampung.
Yang membuatnya sedih, setelah Nenek pergi, tidak ada lagi yang benar-benar mengurus kebun kopi itu.
Pohon-pohon yang dulu dirawat dengan sabar perlahan dibiarkan tumbuh sendiri.
Sebagian menua.
Sebagian mati.
Sebagian tertelan semak dan waktu.
Kebun itu mungkin masih ada.
Tetapi tidak lagi sama.
Seperti banyak hal lain yang berubah setelah seseorang yang kita cintai pergi.
Kini ia sering menikmati kopi.
Di rumah.
Di warung kopi.
Di kota tempat ia tinggal.
Bahkan ketika bepergian ke kota lain, ia selalu penasaran mencoba kopi yang berbeda.
Ada yang pahit.
Ada yang kuat.
Ada yang harum.
Ada yang terkenal hingga ke mana-mana.
Namun setiap kali menyesapnya, ia selalu menemukan satu kesimpulan yang sama.
Rasanya berbeda.
Tidak ada yang benar-benar menyerupai kopi buatan Nenek.
Padahal mungkin biji kopinya sama.
Mungkin cara menyangrainya tidak terlalu berbeda.
Mungkin cara menyeduhnya juga sederhana.
Tetapi rasa kopi Nenek selalu terasa lebih lembut.
Lebih ramah di lambung.
Dan entah bagaimana, lebih hangat di hati.
Mungkin karena yang ia rindukan sebenarnya bukan kopinya.
Melainkan orang yang menyeduhnya.
Orang yang menanam pohonnya.
Orang yang mengajaknya berjalan menuju kebun setiap pagi.
Orang yang membuatkan katoro kecil agar ia merasa berguna.
Karena pada akhirnya, kenangan terbaik memang jarang tersimpan dalam benda-benda besar.
Kadang ia hidup dalam secangkir kopi.
Dalam aroma bunga yang terbawa angin.
Dan dalam kerinduan seorang cucu kepada nenek yang telah lama pulang, tetapi tak pernah benar-benar pergi dari hatinya. ***
