
Ada luka masa kecil yang tidak meninggalkan bekas pada tubuh, tetapi tetap tinggal dalam ingatan hingga puluhan tahun kemudian.
Ketika masih kecil, ia sering membantu orang tuanya.
Di kampung, anak-anak tumbuh bersama pekerjaan. Mereka belajar bahwa hidup tidak hanya tentang bermain, tetapi juga tentang ikut mengambil bagian dalam kehidupan keluarga. Kadang membantu di ladang, kadang mencari kayu bakar, kadang menjaga adik, dan sesekali mengantar hasil kebun.
Suatu hari, saat usianya masih sekitar sembilan atau sepuluh tahun, ayahnya memintanya membawa setandan pisang ke warung kampung.
Pisang itu bukan untuk dimakan.
Bukan pula untuk diberikan kepada seseorang.
Pisang itu akan dititipkan untuk dijual.
Saat itu, di kampung mereka hanya ada satu warung yang menjadi tempat bergantung banyak orang. Warung kecil itu menjual berbagai kebutuhan yang didatangkan dari kota. Beras, gula, garam, minyak goreng, terasi, ikan asin, permen, bahkan sayuran pada hari-hari tertentu.
Bagi warga kampung, warung itu bukan sekadar tempat belanja.
Warung itu adalah penghubung antara kampung dan dunia luar.
Hari itu ia berjalan menuju warung dengan penuh semangat. Tangannya yang kecil menggenggam pisang yang dititipkan ayahnya. Dalam benaknya, ia sedang menjalankan tugas penting.
Ayah mempercayainya.
Dan ia ingin melakukan tugas itu dengan baik.
Jalan menuju warung tidak terlalu jauh. Ia melewati rumah-rumah warga, mendengar suara ayam yang berkeliaran di halaman, dan sesekali menyapa orang yang ditemuinya di jalan.
Sesampainya di warung, ia berdiri di depan meja kayu tempat barang-barang dagangan disusun.
Dengan sopan ia menyampaikan maksud kedatangannya.
Namun sebelum ia selesai berbicara, perempuan pemilik warung langsung menjawab.
“Yang lama saja masih ada belum laku.”
Perempuan itu melirik pisang yang dibawanya.
Lalu berkata lagi dengan nada yang dingin.
“Jangan titip dulu.”
Kalimat itu sebenarnya pendek.
Sangat pendek.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada makian.
Tidak ada kata-kata kasar.
Namun wajah perempuan itu yang tampak ketus dan nada suaranya yang dingin membuat kalimat tersebut terasa jauh lebih berat daripada yang sebenarnya.
Ia terdiam.
Tidak tahu harus menjawab apa.
Tangannya masih memegang pisang yang dibawanya dari rumah.
Sementara perempuan itu sudah kembali mengurus pekerjaannya, seolah kedatangannya tidak penting.
Seolah pisang yang dibawanya hanya menambah urusan.
Ia tidak menangis.
Tidak membantah.
Tidak pula marah.
Ia hanya berdiri beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pulang.
Membawa kembali pisang yang tadi dibawanya dengan penuh harapan.
Perjalanan pulang terasa berbeda.
Jalan yang tadi terasa ringan kini terasa lebih panjang.
Langkahnya lebih lambat.
Dan meskipun ia belum memahami sepenuhnya apa yang dirasakannya, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati.
Mungkin itulah pertama kalinya ia mengenal penolakan.
Mungkin juga pertama kalinya ia merasakan malu.
Atau mungkin perasaan bahwa dirinya tidak diterima.
Ketika sampai di rumah, ayahnya bertanya.
Ia menceritakan apa yang terjadi.
Sederhana saja.
Sebagaimana anak kecil bercerita.
Ayahnya mendengarkan.
Tidak menyuruhnya kembali ke warung.
Tidak pula menyalahkan perempuan itu.
Hidup di kampung mengajarkan banyak orang untuk menerima keadaan sebagaimana adanya.
Hari itu berlalu.
Seperti hari-hari lainnya.
Namun peristiwa kecil tersebut ternyata tidak ikut berlalu.
Ia menetap.
Diam-diam tinggal di dalam ingatan.
Tahun demi tahun berganti.
Anak perempuan itu tumbuh dewasa.
Ia meninggalkan kampung.
Menjalani kehidupannya sendiri.
Membangun keluarga.
Menjadi seorang ibu.
Lalu melihat anak-anaknya tumbuh besar.
Bahkan kini, ia telah menikahkan anaknya dan menerima seorang menantu ke dalam keluarga.
Namun anehnya, setiap kali mengenang masa kecilnya, peristiwa di warung itu masih muncul.
Masih jelas.
Masih utuh.
Masih bisa diingat hingga nada suara dan ekspresi wajah perempuan tersebut.
Bukan karena ia menyimpan dendam.
Tidak.
Ia tidak membenci perempuan itu.
Seiring bertambahnya usia, ia bahkan belajar memahami bahwa mungkin perempuan tersebut sedang lelah.
Mungkin sedang banyak pikiran.
Mungkin sedang menghadapi persoalan yang tidak diketahui oleh seorang anak kecil yang datang membawa pisang.
Namun yang membekas bukanlah perempuan itu.
Yang membekas adalah perasaannya.
Perasaan seorang anak kecil yang datang dengan hati tulus untuk menjalankan tugas dari ayahnya.
Lalu pulang membawa sesuatu yang tak terlihat oleh siapa pun.
Sebuah luka kecil.
Luka yang tidak berdarah.
Luka yang tidak membutuhkan obat.
Tetapi diam-diam menetap di dalam hati.
Kata-kata itu tinggal begitu lama.
Jauh lebih lama daripada yang mungkin dibayangkan oleh orang yang mengucapkannya.
Bahkan hingga ia menikah.
Bahkan hingga ia memiliki anak-anak.
Bahkan hingga ia memiliki menantu.
Kenangan itu masih ada.
Tidak lagi menyakitkan.
Tetapi tetap hidup.
Mungkin itulah sebabnya, ketika kemudian ia menjadi orang dewasa, ia selalu berusaha berbicara lembut kepada anak-anak.
Ia tahu bahwa sebuah kalimat dapat tinggal sangat lama di dalam hati seseorang.
Ia tahu bahwa nada suara yang terdengar biasa bagi orang dewasa bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi seorang anak.
Karena ada kata-kata yang hanya diucapkan beberapa detik.
Namun gaungnya dapat bertahan puluhan tahun.
Dan sejak hari itu, tanpa disadarinya, ia belajar sebuah pelajaran penting tentang kehidupan: bahwa keramahan yang kecil dapat menjadi kenangan yang indah seumur hidup, dan sebaliknya, ketus yang sederhana pun dapat menetap di hati seorang anak jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan. ***
