Penyengat mengajarkannya tentang rasa sakit. Daun simpor mengajarkannya tentang harga sebuah usaha
Ayahnya seorang guru.
Di kampung mereka, profesi itu termasuk pekerjaan yang dihormati. Setiap bulan ayahnya pergi ke kota untuk menerima gaji sebagai guru pegawai negeri sipil. Sementara ibunya mengurus rumah dan membantu perekonomian keluarga dengan berladang.
Untuk ukuran kehidupan kampung, keluarga mereka tidak bisa disebut hidup susah.
Tetapi juga jauh dari berkelebihan.
Mereka tidak pernah kekurangan makan.
Tidak pernah kekurangan beras.
Namun uang tetap sesuatu yang harus digunakan dengan hati-hati.
Karena itu, jika ingin membeli sesuatu di luar kebutuhan sehari-hari, seorang anak harus belajar mencarinya sendiri.
Termasuk ketika ia ingin membeli permen.
Atau kerupuk.
Atau jajanan kecil yang dijual di warung kampung.
Di kampung mereka tumbuh sejenis tanaman yang daunnya dikenal sebagai daun simpor.
Daunnya lebar.
Hijau.
Kuat.
Sejak dahulu digunakan oleh masyarakat kampung sebagai pembungkus alami.
Orang-orang menggunakan daun simpor untuk membungkus belanjaan. Akhir tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an orang jarang menggunakan plastik. Tak hanya di kampung, di kota pun belanja dibungkus pakai daun simpor. Ada sampah berserakan bekas daun itu, tapi ia mudah busuk dan organik.
Di kampung, orang juga membungkus nasi bekal ke ladang dengan daun simpor. Aroma-nya wangi, menambah selera.
Bahkan untuk membungkus tumpi’ poe’, makanan tradisional yang sering dibuat masyarakat Dayak di kampung mereka.
Karena banyak dibutuhkan, daun simpor memiliki nilai jual.
Tidak besar.
Tetapi cukup menarik bagi anak-anak.
Maka ketika ada kesempatan, ia bersama teman-temannya pergi mencari daun simpor.
Biasanya mereka berangkat ke hutan kecil yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Hutan itu tidak menyeramkan bagi anak-anak kampung.
Mereka mengenal jalan-jalannya.
Mengenal pohon-pohonnya.
Dan tahu di mana daun simpor tumbuh dengan baik.
Dengan tangan-tangan kecil, mereka memetik daun demi daun.
Mengumpulkannya hingga menjadi satu pelukan besar.
Kadang daun-daun itu lebih besar daripada tubuh mereka sendiri.
Namun mereka tetap membawanya pulang dengan bangga.
Upahnya tidak seberapa.
Satu pelukan daun simpor bisa dihargai seratus rupiah.
Kadang hanya lima puluh rupiah.
Nilai yang mungkin hari ini bahkan tidak cukup untuk membeli apa pun.
Tetapi bagi seorang anak kampung pada masa itu, uang tersebut terasa sangat berarti.
Seratus rupiah bisa berubah menjadi beberapa butir permen.
Bisa menjadi sebungkus kerupuk.
Bisa menjadi kebahagiaan kecil yang membuat hari terasa lebih menyenangkan.
Karena itu, setiap lembar daun yang dipetik terasa seperti harta karun.
Namun mencari daun simpor tidak selalu menyenangkan.
Suatu hari, ketika sedang memetik daun seperti biasa, tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang tersembunyi di balik daun.
Sesaat kemudian rasa sakit menjalar.
Seekor penyengat yang bersarang di sana menyerangnya.
Rasa perihnya datang tiba-tiba.
Tajam.
Menyengat.
Membuat tubuh kecilnya terkejut.
Ia langsung meringis.
Matanya berair.
Dan tak lama kemudian ia menangis.
Teman-temannya panik.
Sementara ia memegangi bagian tubuh yang tersengat, berusaha menahan rasa sakit yang seolah membakar kulitnya.
Hari itu ia pulang dengan langkah yang jauh lebih pelan.
Rasa nyeri masih terasa.
Tangisnya belum benar-benar reda.
Namun seperti banyak anak kampung lainnya, kesedihan itu tidak bertahan lama.
Beberapa hari kemudian ia kembali ke tempat yang sama.
Kembali mencari daun simpor.
Kembali masuk ke hutan kecil bersama teman-temannya.
Seolah kejadian itu tidak pernah terjadi.
Bukan karena ia tidak takut.
Ia tetap takut.
Ia masih ingat rasa sakitnya.
Masih ingat sengatan yang membuat matanya basah oleh air mata.
Tetapi ada sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut.
Keinginannya untuk memiliki uang sendiri.
Keinginannya membeli permen dan kerupuk tanpa harus meminta kepada orang tua.
Keinginannya merasakan kebanggaan sederhana karena mampu mendapatkan sesuatu dari hasil usahanya sendiri.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, ia sering tersenyum setiap kali mengenang masa itu.
Tentang seratus rupiah yang dahulu terasa begitu berharga.
Tentang daun-daun simpor yang dipeluknya saat berjalan pulang.
Tentang hutan kecil yang menjadi tempat petualangan masa kanak-kanak.
Dan tentang sengatan penyengat yang sempat membuatnya menangis.
Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak akan mengerti mengapa seseorang rela masuk ke hutan demi mendapatkan uang lima puluh atau seratus rupiah.
Tetapi bagi anak kampung pada masa itu, itulah pelajaran pertama tentang kerja keras.
Bahwa uang tidak datang begitu saja.
Bahwa bahkan untuk membeli sebutir permen pun, kadang seseorang harus berani masuk ke semak-semak, memetik daun satu per satu, dan sesekali menahan sengatan yang menyakitkan.
Dan mungkin karena itulah, sampai hari ini, setiap kali melihat anak-anak membeli jajanan dengan mudah, ia masih teringat kepada daun simpor.
Daun besar yang pernah mengajarkannya bahwa kebahagiaan kecil sering kali lahir dari usaha yang tidak kecil. ***

