Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di TrakteerSemakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa iman bukanlah tentang selalu mendapatkan apa yang kita minta. Iman adalah keberanian untuk tetap percaya, bahkan ketika jawaban Tuhan belum terlihat.
Tidak semua doa dijawab dengan kata “ya”. Ada doa yang dijawab dengan “tunggu”. Ada yang dijawab dengan “bukan sekarang”. Bahkan ada yang dijawab dengan “Aku mempunyai rencana yang lebih baik.”
Dan justru dalam jawaban-jawaban seperti itulah kasih Tuhan sering kali dinyatakan.
Hari ini, ketika menoleh ke belakang, saya hanya mampu mengucapkan syukur. Syukur karena Tuhan tidak selalu mengabulkan keinginan saya. Syukur karena Ia tidak membiarkan saya berjalan menurut kehendak sendiri. Syukur karena, sebagai Bapa yang penuh kasih, Ia selalu memberikan apa yang sungguh saya perlukan, meski tidak selalu sama dengan apa yang saya inginkan.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
(Roma 8:28)
Atas semua penyelenggaraan ilahi itu, saya bersujud dan mengucapkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: Allah Bapa yang menciptakan dan memelihara kehidupan, Allah Putra, Tuhan kita Yesus Kristus, yang menebus dunia melalui salib dan kebangkitan-Nya, serta Allah Roh Kudus yang senantiasa membimbing dan menguatkan langkah umat-Nya.
Saya juga bersyukur atas persekutuan para kudus yang oleh Gereja diajarkan sebagai sahabat-sahabat Allah yang terus mendoakan kita.
Terima kasih, Santa Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja, yang selalu mengarahkan hati kami kepada Putra-Mu.
Terima kasih, Santo Yosef, pelindung Gereja Semesta, yang mengajarkan kesetiaan, tanggung jawab, dan kepercayaan penuh kepada kehendak Allah.
Terima kasih, Santo Dominikus, Bapa Rohani Ordo Para Pengkhotbah, yang mewariskan semangat doa, pewartaan, dan cinta akan kebenaran.
Terima kasih, Santa Fransiska Xaveria Cabrini, pelindung para perantau, yang menunjukkan bahwa kasih Kristus tidak mengenal batas bangsa maupun tempat, dan bahwa setiap perjalanan dapat menjadi jalan menuju kekudusan.
Dengan rendah hati kami memohon, teruslah menghadapkan doa-doa kami kepada Allah. Mohonkanlah bagi kami rahmat agar tetap setia ketika hidup terasa berat, tetap berharap ketika doa belum kami pahami jawabannya, dan tetap mengasihi Tuhan dalam setiap musim kehidupan.
Maka bersama Gereja di seluruh dunia kami berdoa:
Bunda Maria, doakanlah kami.
Santo Yosef, doakanlah kami.
Santo Dominikus, doakanlah kami.
Santa Fransiska Xaveria Cabrini, doakanlah kami.
Segala malaikat dan orang kudus Allah, doakanlah kami.
Semoga melalui doa-doa mereka, kami semakin setia mengikuti Kristus, hingga pada akhirnya kami diperkenankan memandang wajah Allah dalam kemuliaan Kerajaan Surga.
Sebab hanya kepada Allah Tritunggal Mahakudus—Bapa, Putra, dan Roh Kudus—segala hormat, pujian, syukur, dan kemuliaan kami persembahkan, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.
