Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di Trakteer“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalanmu, demikianlah firman TUHAN.”
(Yesaya 55:8)
Ada kalanya kita merasa Tuhan begitu dekat. Doa terasa mengalir, hati dipenuhi damai, dan segala sesuatu berjalan sesuai harapan.
Namun ada pula masa ketika doa terasa seperti menggantung di udara. Hari demi hari kita memohon, bahkan mungkin menambah doa dengan novena, Rosario, atau adorasi. Tetapi keadaan tidak berubah. Pintu yang kita harapkan tetap tertutup.
Dalam situasi seperti itu, tidak sedikit orang mulai bertanya, “Apakah Tuhan mendengar doaku?”
Saya percaya pertanyaan itu sangat manusiawi.
Ada sebuah keluarga yang pernah mengalami hal serupa. Mereka berdoa dengan tekun agar Tuhan membuka jalan bagi masa depan anak mereka. Mereka memiliki gambaran yang jelas tentang seperti apa jawaban doa itu seharusnya datang.
Namun hari-hari berlalu tanpa tanda apa pun.
Lalu, ketika mereka mulai belajar menerima bahwa mungkin Tuhan mempunyai rencana lain, muncul sebuah kesempatan yang sama sekali tidak mereka pikirkan sebelumnya. Jalan itu berbeda dari harapan semula, tetapi justru membuka masa depan yang lebih menjanjikan.
Saat itulah mereka sadar bahwa Tuhan sebenarnya tidak pernah diam. Ia hanya sedang menjawab dengan cara yang berbeda.
Pengalaman lain juga mengajarkan hal yang sama.
Pernah suatu ketika, sebuah keluarga berusaha mencari jalan keluar dari persoalan ekonomi. Mereka mengetuk banyak pintu, berharap ada pertolongan yang datang. Anehnya, hampir semua pintu tertutup.
Mereka kecewa. Bahkan sempat bertanya dalam hati mengapa Tuhan membiarkan mereka berjuang sendirian.
Namun waktu membuktikan sesuatu yang indah.
Ketika jalan yang mereka inginkan tidak terbuka, Tuhan justru membuka jalan lain yang jauh lebih besar. Solusi yang datang bukan hanya menyelesaikan kebutuhan sesaat, tetapi sekaligus mengangkat beban yang selama ini mereka pikul.
Barulah mereka memahami bahwa seandainya doa pertama langsung dikabulkan, persoalan yang lebih besar justru akan tetap tinggal.
Bukankah sering kali hidup kita seperti itu?
Kita hanya melihat satu langkah di depan. Tuhan melihat seluruh perjalanan.
Kita meminta setetes air. Tuhan sedang menyiapkan mata air.
Kita memohon agar satu pintu dibuka. Tuhan justru sedang membangun rumah yang lebih baik.
Karena itu Yesus berkata:
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
(Matius 7:7)
Ayat ini bukan berarti setiap permohonan akan dikabulkan persis seperti yang kita inginkan. Sebagai Bapa yang penuh kasih, Tuhan memberikan apa yang sungguh kita perlukan, bukan sekadar apa yang kita inginkan.
Dalam iman Katolik, novena bukanlah cara untuk “memaksa” Tuhan mengabulkan doa. Novena adalah latihan iman. Selama sembilan hari itu, Tuhan bukan hanya bekerja atas situasi kita, tetapi juga membentuk hati kita agar semakin mampu menerima kehendak-Nya.
Sering kali mukjizat terbesar bukanlah ketika keadaan berubah seketika, melainkan ketika kita akhirnya mampu berkata seperti Bunda Maria:
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
(Lukas 1:38)
Penyerahan diri seperti inilah yang membawa damai. Kita tidak lagi memaksa Tuhan mengikuti rencana kita, tetapi percaya bahwa rencana-Nya selalu lebih baik, meski belum tentu lebih mudah.
Jika hari ini Anda sedang menunggu jawaban doa, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan Anda.
Mungkin Ia sedang bekerja dalam keheningan.
Mungkin Ia sedang menutup satu pintu agar Anda tidak masuk ke jalan yang keliru.
Dan mungkin, tepat pada waktu yang telah Ia tetapkan, Anda akan menoleh ke belakang dan berkata, “Sekarang aku mengerti mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku waktu itu.”
Sebab kasih Tuhan tidak pernah terlambat.
Ia selalu datang pada waktu yang paling tepat.
“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”
(Mazmur 37:5)
