Musim Panas di Lüxem: Tentang Rumput, Lebah, dan Hari-Hari yang Berjalan Pelan

Di Lüxem, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari perjalanan yang jauh. Kadang ia hadir dalam bentuk rumput hijau, secangkir teh, dan percakapan sederhana di bawah langit musim panas

Selama berada di Jerman, kami tidak selalu berpindah dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya.

Ada hari-hari ketika kami hanya tinggal di rumah.

Tidak pergi ke kastel.

Tidak naik kereta.

Tidak mengunjungi kota-kota tua.

Hanya menikmati kehidupan yang berjalan pelan.

Hari-hari seperti itu justru banyak kami habiskan di Lüxem, sebuah desa kecil yang menjadi bagian dari wilayah .

Jika seseorang bertanya apa yang paling saya ingat dari Lüxem, jawabannya bukan bangunan bersejarah.

Bukan pula tempat wisata terkenal.

Melainkan ketenangan.

Desa itu terasa begitu tenang.

Jalan-jalannya bersih dan rapi.

Rumah-rumah berdiri dengan halaman yang terawat.

Udara musim panas terasa sejuk dan nyaman.

Tidak ada suara klakson yang bersahut-sahutan.

Tidak ada hiruk-pikuk seperti di kota besar.

Sesekali hanya terdengar suara burung.

Atau suara mesin pemotong rumput dari kejauhan.

Kami tinggal di rumah putra dan menantu yang memiliki taman cukup luas di belakang rumah.

Bagi saya yang berasal dari Kalimantan, taman itu terasa seperti kemewahan kecil.

Hamparan rumput hijau membentang rapi.

Beberapa tanaman bunga tumbuh di sudut-sudut halaman.

Ketika cuaca cerah dan kami tidak memiliki rencana bepergian, saya dan istri sering menghampar tikar di atas rumput.

Kami duduk berdua.

Mengobrol tentang banyak hal.

Tentang anak-anak.

Tentang kampung.

Tentang perjalanan yang sedang kami jalani.

Kadang tidak membicarakan apa-apa yang penting.

Hanya menikmati waktu yang bergerak perlahan.

Semakin bertambah usia, saya merasa momen seperti itu justru menjadi semakin berharga.

Di Indonesia, hidup sering berjalan cepat.

Pekerjaan datang silih berganti.

Telepon genggam tidak pernah benar-benar diam.

Ada saja yang harus dipikirkan.

Namun di taman belakang rumah itu, waktu seolah berjalan dengan kecepatannya sendiri.

Perlahan.

Tenang.

Dan cukup.

Di sebelah rumah terdapat keluarga yang memelihara lebah madu.

Bukan satu atau dua kotak sarang.

Melainkan cukup banyak.

Awalnya saya agak khawatir.

Bagaimanapun juga, lebah tetaplah lebah.

Tetapi rupanya mereka sangat tenang.

Mereka sibuk bekerja dari bunga ke bunga tanpa mengganggu siapa pun.

Suatu hari, istri saya mengalami kejadian kecil yang membuat kami semua terkejut.

Seekor lebah menyengatnya.

Refleks ia sedikit kaget.

Kami pun ikut panik sesaat.

Namun ternyata sengatan itu tidak terlalu sakit.

Hanya meninggalkan rasa terkejut lebih besar daripada rasa nyeri.

Anak saya kemudian menjelaskan bahwa lebah sangat dihargai di Jerman.

Mereka dianggap memiliki peran penting bagi alam dan pertanian karena membantu proses penyerbukan.

“Bapak, di sini lebah tidak boleh dibunuh sembarangan,” katanya.

Saya mengangguk.

Lalu memperhatikan seekor lebah yang sedang hinggap di bunga tidak jauh dari tempat kami duduk.

Saya teringat kampung halaman.

Dulu ketika masih kecil, kami sering melihat lebah liar di kebun atau hutan.

Namun saya tidak pernah benar-benar memikirkan betapa pentingnya mereka bagi kehidupan.

Di Lüxem, seekor lebah kecil justru mengajarkan saya sesuatu.

Bahwa masyarakat maju tidak hanya membangun jalan yang baik atau rumah yang nyaman.

Mereka juga belajar hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk kecil yang sering luput dari perhatian.

Hari-hari di Lüxem mungkin tidak seheboh ketika kami mengunjungi Porta Nigra di Trier.

Tidak semegah saat melihat Burg Cochem.

Tidak pula seindah pemandangan Sungai Mosel.

Namun justru di desa kecil itulah saya menemukan sesuatu yang berbeda.

Ketenangan.

Kesederhanaan.

Dan kemampuan untuk menikmati hari tanpa tergesa-gesa.

Ketika mengingat Jerman, saya tentu akan mengingat kastel-kastelnya.

Saya akan mengingat sungai-sungainya.

Saya akan mengingat kota-kota tuanya.

Tetapi saya juga akan mengingat sebuah sore yang tenang di Lüxem.

Saya dan istri duduk di atas tikar di taman belakang rumah.

Rumput hijau membentang di depan mata.

Lebah-lebah bekerja di antara bunga.

Dan dunia, setidaknya untuk beberapa jam, terasa baik-baik saja. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *