Membuang makanan bukan hanya membuang apa yang ada di piring. Kita juga membuang air, energi, tanah, waktu, dan kerja keras banyak orang yang membuat makanan itu sampai ke meja kita.
Selama beberapa minggu — tepatnya satu bulan lebih — tinggal di Jerman, ada satu kebiasaan yang perlahan menarik perhatian saya.
Bukan soal teknologi.
Bukan soal jalan raya.
Bukan pula soal kereta api yang terkenal tepat waktu.
Yang menarik justru sesuatu yang sangat sederhana: cara orang Jerman memperlakukan makanan.
Di rumah anak dan menantu saya di Lüxem, saya jarang melihat makanan dibuang begitu saja.
Jika masih layak dimakan, makanan akan disimpan.
Jika masih bisa diolah kembali, makanan akan diolah.
Jika porsinya terlalu besar, sisanya disimpan untuk dimakan keesokan hari.
Awalnya saya mengira itu hanya kebiasaan keluarga mereka.
Namun semakin lama berada di Jerman, saya menyadari bahwa sikap seperti itu cukup umum dijumpai.
Di restoran, banyak orang membawa pulang makanan yang tidak habis.
Di rumah-rumah, orang berusaha merencanakan belanja dengan baik agar tidak ada bahan makanan yang terbuang.
Di supermarket, produk yang mendekati tanggal kedaluwarsa sering dijual dengan harga diskon agar tetap bisa dikonsumsi dan tidak berakhir di tempat sampah.
Bahkan terdapat berbagai gerakan sosial yang mendorong penyelamatan makanan yang masih layak makan agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya soal penghematan.
Namun semakin saya memperhatikannya, semakin saya merasa bahwa persoalan ini jauh lebih dalam.
Ini adalah soal cara pandang terhadap makanan.
Makanan Adalah Hasil Kerja Banyak Orang
Ketika sepiring makanan tersaji di meja, kita sering hanya melihat hasil akhirnya.
Nasi.
Roti.
Sayur.
Daging.
Buah-buahan.
Padahal di balik makanan itu terdapat perjalanan yang panjang.
Ada petani yang menanam.
Ada peternak yang memelihara.
Ada pekerja yang memanen.
Ada sopir yang mengangkut.
Ada pedagang yang menjual.
Ada energi yang digunakan.
Ada air yang dikonsumsi.
Ada lahan yang dikelola.
Membuang makanan pada akhirnya bukan hanya membuang makanan itu sendiri.
Tetapi juga membuang seluruh sumber daya yang telah digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut.
Mungkin karena kesadaran seperti itulah banyak orang Jerman berusaha lebih bijak dalam mengelola konsumsi mereka.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah
Ketika mendengar istilah ketahanan pangan, banyak orang langsung membayangkan sawah yang luas, kebijakan pemerintah, atau cadangan pangan nasional.
Padahal ketahanan pangan juga dimulai dari meja makan di rumah.
Jika jutaan keluarga mampu mengurangi pemborosan makanan, maka tekanan terhadap sistem produksi pangan juga berkurang.
Kebutuhan lahan dapat ditekan.
Konsumsi energi berkurang.
Air tidak terbuang sia-sia.
Pada akhirnya, pengurangan limbah makanan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan pangan.
Saya teringat pada kebun sayur milik besan kami di Bombogen.
Tomat.
Selada.
Mentimun.
Berbagai tanaman tumbuh dengan baik di belakang rumah mereka.
Setiap hasil panen dihargai.
Tidak ada yang dibuang sembarangan.
Mungkin karena mereka memahami berapa banyak waktu dan tenaga yang dibutuhkan agar sebuah tanaman bisa tumbuh hingga siap dipanen.
Ekonomi Hijau yang Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Sering kali kita membayangkan ekonomi hijau sebagai sesuatu yang besar dan rumit.
Pembangkit energi terbarukan.
Mobil listrik.
Teknologi canggih.
Padahal sebagian ekonomi hijau justru lahir dari kebiasaan sederhana sehari-hari.
Seperti menggunakan barang lebih lama.
Memperbaiki daripada membuang.
Mengurangi sampah.
Dan menghargai makanan.
Makanan yang terbuang akan berakhir menjadi limbah.
Limbah organik menghasilkan emisi gas rumah kaca ketika membusuk dalam jumlah besar.
Semakin banyak makanan yang terbuang, semakin besar pula sumber daya yang sia-sia.
Karena itu mengurangi pemborosan makanan sesungguhnya merupakan tindakan lingkungan yang sangat nyata.
Tidak perlu menunggu proyek besar.
Tidak perlu menunggu kebijakan nasional.
Bisa dimulai dari dapur sendiri.
Mengingat Masa Kecil di Kampung
Kebiasaan orang Jerman ini justru mengingatkan saya pada masa kecil di kampung.
Dulu orang tua kami juga tidak suka membuang makanan.
Bukan karena mengikuti konsep ekonomi hijau.
Bukan pula karena membaca teori keberlanjutan.
Melainkan karena makanan dianggap berharga.
Setiap butir beras memiliki nilai.
Setiap hasil ladang adalah buah kerja keras.
Karena itu makanan dihormati.
Mungkin masyarakat modern di berbagai negara sebenarnya sedang kembali menemukan kebijaksanaan lama yang pernah dimiliki nenek moyang mereka.
Bahwa makanan bukan sekadar komoditas.
Ia adalah hasil hubungan antara manusia dan alam.
Sebuah Pelajaran Sederhana
Jerman tentu memiliki banyak hal yang mengagumkan.
Kota-kota tua yang indah.
Kastel yang megah.
Sistem transportasi yang baik.
Teknologi yang maju.
Namun salah satu pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang justru berasal dari hal yang sederhana.
Tentang bagaimana memperlakukan makanan dengan hormat.
Tentang mengambil secukupnya.
Tentang menghabiskan apa yang telah disajikan.
Dan tentang menyadari bahwa setiap makanan yang ada di meja merupakan hasil kerja panjang yang tidak seharusnya berakhir di tempat sampah.
Karena pada akhirnya, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan ekonomi hijau tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.
Sering kali semuanya dimulai dari keputusan sederhana yang dibuat setiap hari di meja makan kita sendiri. ***
Leave a Reply