Saya tidak pernah menyangka bahwa percakapan sederhana di sela-sela pekerjaan memperbaiki rumah akan membawa saya pada sebuah kisah yang begitu menyentuh.
Pria itu seorang tukang. Tubuhnya tidak besar. Ia bekerja memperbaiki atap rumah kami yang bocor, memasang dek, dan membuat atap garasi sederhana. Ia juga seorang penyandang tuna wicara.
Kami memanggilnya dengan sederhana: Si Bisu.
Suatu siang, ketika pekerjaan sedang tidak terlalu sibuk, kami berbincang menggunakan bahasa isyarat sederhana. Saya beruntung pernah belajar berkomunikasi dengan penyandang tuna wicara dari almarhum paman saya yang juga memiliki kondisi serupa.
Di tengah percakapan itulah, ia tiba-tiba menunjukkan bagian tulang kering pada kakinya.
Ada bekas luka yang cukup jelas.
Lalu ia mulai bercerita.
Dengan gerakan tangan yang pelan dan ekspresi wajah yang berubah serius, ia mengisahkan bahwa luka itu bukan karena kecelakaan kerja. Bukan pula karena terjatuh saat bertukang.
Luka itu berasal dari masa ketika Kalimantan Barat dilanda kerusuhan sosial.
Saat itu, katanya, ia berlari menyelamatkan diri. Ketakutan. Bingung. Tidak tahu harus ke mana. Dalam kekacauan itu, kakinya terluka. Bekasnya masih tersimpan hingga hari ini.
Saya memandang luka itu cukup lama.
Tiba-tiba saya menyadari bahwa sejarah besar sering kali tidak tersimpan dalam buku-buku tebal atau laporan resmi. Sejarah kadang hidup dalam tubuh manusia. Dalam bekas luka yang mereka bawa puluhan tahun kemudian.
Bagi sebagian orang, kerusuhan sosial mungkin hanya sebuah peristiwa masa lalu yang dibaca dalam arsip atau diberitakan media.
Namun bagi mereka yang mengalaminya secara langsung, peristiwa itu tidak pernah benar-benar selesai.
Ada kenangan yang tetap tinggal.
Ada ketakutan yang mungkin sesekali muncul kembali.
Ada kehilangan yang tidak selalu bisa diceritakan dengan kata-kata.
Dan ada luka yang terus menempel pada tubuh sebagai pengingat bahwa mereka pernah berada di tengah situasi yang mengancam nyawa.
Saya tidak bertanya terlalu jauh.
Ada cerita-cerita yang mungkin terlalu berat untuk diungkapkan kembali. Ada kenangan yang lebih baik dihormati daripada digali secara berlebihan.
Tetapi saya bisa merasakan kesedihan di balik kisah singkat yang ia sampaikan.
Saya juga membayangkan betapa sulitnya situasi saat itu bagi seorang penyandang tuna wicara.
Dalam keadaan normal saja, mereka sering menghadapi tantangan komunikasi. Apalagi dalam suasana panik, penuh ketakutan, dan serba tidak pasti.
Bagaimana cara meminta bantuan?
Bagaimana cara menjelaskan keadaan?
Bagaimana cara memberi tahu orang lain bahwa dirinya dalam bahaya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus terlintas di benak saya.
Mungkin karena itulah saya semakin menghargai dirinya.
Hari ini, bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, ia tetap bekerja keras. Ia tetap membangun. Ia tetap memperbaiki rumah-rumah orang lain.
Tangannya yang dahulu mungkin pernah gemetar karena ketakutan, kini justru membantu menciptakan rasa aman bagi orang lain.
Ia memperbaiki atap yang bocor.
Ia memasang kayu dengan presisi.
Ia membangun sesuatu yang kuat dan kokoh.
Ada ironi yang menyentuh di sana.
Seseorang yang pernah mengalami kehancuran akibat konflik, kini menghabiskan hidupnya untuk membangun.
Percakapan itu juga mengingatkan saya bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang boleh dianggap biasa.
Mereka yang tidak pernah mengalami kerusuhan mungkin sulit membayangkan betapa berharganya hidup berdampingan dengan tenang. Betapa berharganya bisa berangkat bekerja tanpa rasa takut. Betapa berharganya bisa pulang ke rumah dan menemukan keluarga dalam keadaan selamat.
Perdamaian sering kali terasa biasa sampai suatu hari ia hilang.
Karena itulah, mendengar kisah Si Bisu membuat saya semakin berharap agar generasi sekarang tidak lagi mewarisi kebencian masa lalu.
Kita boleh mengingat sejarah, tetapi bukan untuk menghidupkan kembali permusuhan.
Kita boleh mengenang luka, tetapi bukan untuk menanam dendam.
Kita perlu belajar dari masa lalu agar tidak mengulanginya.
Bekas luka di tulang kering Si Bisu mungkin tidak akan pernah hilang.
Namun saya berharap luka-luka sosial yang pernah melukai masyarakat Kalimantan Barat perlahan bisa sembuh.
Dan semoga anak-anak yang tumbuh hari ini hanya mengenal kerusuhan sebagai cerita sejarah, bukan sebagai pengalaman hidup yang harus mereka alami sendiri.
Karena tidak ada seorang pun yang seharusnya berlari ketakutan demi menyelamatkan nyawanya hanya karena perbedaan.
Tidak ada seorang pun yang pantas membawa luka seperti itu sepanjang hidupnya.
Dan tidak ada warisan yang lebih berharga bagi generasi mendatang selain kedamaian. ***
