Menjadi Mertua Dimulai dari Selembar Surat

Spread the love

Menjadi mertua ternyata tidak dimulai pada hari pernikahan. Ia dimulai ketika kita mengurus surat-surat anak yang sebentar lagi akan membangun keluarganya sendiri...

Saya kira mempersiapkan pernikahan anak yang berbeda negara, berbeda budaya, dan berbeda bahasa akan banyak berbicara tentang cinta.

Ternyata tidak sepenuhnya.

Kadang-kadang ia justru dimulai dari fotokopi KTP, surat keterangan lajang, legalisasi dokumen, tanda tangan pejabat, dan antrean di berbagai kantor pemerintahan.

Namun justru di situlah letak serunya.

Karena untuk pertama kalinya saya dan istri benar-benar menyadari bahwa anak kami akan menikah.

Bukan lagi sekadar rencana.

Bukan lagi sekadar cerita.

Tetapi sebuah kenyataan yang semakin dekat setiap kali satu dokumen selesai diurus.

Dan di balik tumpukan berkas itu, perlahan muncul kesadaran lain.

Sebentar lagi kami akan menjadi mertua.

Beberapa tahun lagi mungkin menjadi kakek dan nenek.

Mungkin suatu hari ada anak kecil berlari memanggil kami Opa dan Oma.

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Apa yang sudah kami kerjakan selama ini?

Apakah hidup kami cukup berarti?

Apakah kami telah menjadi orang tua yang baik?

Apakah anak-anak membawa sesuatu yang baik dari rumah ketika mereka pergi merantau ribuan kilometer jauhnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang diam-diam.

Biasanya ketika perjalanan pulang.

Atau saat menunggu antrean di kantor pemerintahan.

Surat Keterangan Lajang dan Kesabaran

Salah satu pengalaman yang paling diingat istri saya terjadi saat mengurus surat keterangan lajang di kelurahan.

Semua berkas sudah disiapkan.

Persyaratan sudah diperiksa.

Fotokopi sudah lengkap.

Ketika berkas diserahkan, seorang ibu pegawai yang mungkin tinggal beberapa tahun lagi memasuki masa pensiun memeriksa dokumen-dokumen tersebut.

Beliau mengenakan seragam cokelat khas ASN dan kerudung yang rapi.

Lalu sambil memeriksa berkas, beliau berkomentar.

“Ini memang surat keterangan lajang. Tapi mana kamek tahu kalau di sana anak ibu belum menikah?”

Istri saya hanya mengelus dada.

Dalam hati, mungkin ada banyak jawaban yang ingin keluar.

Namun semuanya ditahan.

Karena sebenarnya kami datang bukan untuk meminta komentar atau nasihat.

Kami hanya ingin memastikan apakah syarat administrasi sudah lengkap atau belum.

Kalau lengkap, mohon diproses.

Kalau kurang, mohon diberi tahu apa yang kurang.

Selesai.

Terkadang dalam urusan administrasi, yang paling dibutuhkan warga bukan petuah panjang, melainkan kepastian prosedur.

Untunglah semuanya tetap berjalan baik dan surat yang diperlukan akhirnya selesai.

Kini ketika mengingatnya, kami malah bisa tertawa.

Mungkin setiap keluarga memang memiliki cerita administrasinya masing-masing.

Ketika Birokrasi Bekerja dengan Baik

Namun saya juga harus jujur.

Tidak semua pengalaman birokrasi membuat dahi berkerut.

Sebaliknya, ada banyak pengalaman yang justru menyenangkan.

Salah satunya ketika mengurus dokumen Apostille di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM di Pontianak.

Prosesnya relatif lancar.

Seorang petugas, perempuan muda membantu kami dengan sangat baik.

Masih muda. Berkerudung.

Cekatan.

Penjelasannya runtut.

Mudah dipahami.

Dan yang paling saya sukai, ia fokus pada pekerjaannya.

Tidak banyak komentar di luar urusan yang sedang kami urus.

Tidak ada nasihat yang tidak diminta.

Tidak ada ceramah tambahan.

Hanya penjelasan yang jelas dan profesional.

Sebagai warga, itu sudah lebih dari cukup.

Di sana kami juga mendapat bantuan informasi dari seorang teman lama yang kebetulan pernah menjadi guru karate anak-anak kami di UKC Untan.

Kadang memang hidup terasa kecil.

Di tengah urusan yang cukup rumit, selalu ada orang-orang baik yang muncul membantu.

Catatan Sipil dan Gereja

Pengalaman yang hampir sama kami rasakan di Kantor Catatan Sipil Kota Pontianak.

Proses administrasi berjalan lancar.

Petugas responsif dan membantu.

Hal-hal yang belum kami pahami dijelaskan dengan baik.

Demikian pula ketika mengurus berbagai kebutuhan administrasi gerejawi.

Karena anak-anak kami dibaptis di Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang, maka berbagai dokumen gereja seperti Status Liber atau surat keterangan bebas untuk menikah diurus melalui paroki tersebut.

Bukan melalui Paroki Maria Ratu Pencinta Damai, Pontianak, yang selama ini lebih dekat dengan tempat tinggal kami.

Maka dimulailah perjalanan bolak-balik dari Pontianak menuju Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Jaraknya sekitar empat puluh kilometer.

Tidak terlalu jauh.

Tetapi juga tidak bisa disebut dekat.

Apalagi jika harus beberapa kali bolak-balik.

Untunglah saya punya tugas yang cukup sederhana.

Menjadi sopir.

Mengantar istri ke sana kemari.

Menunggu.

Lalu mengantar pulang.

Tugas yang tampaknya sederhana, tetapi saya jalani dengan penuh kesungguhan.

Setidaknya begitu menurut saya.

Kalau menurut istri, mungkin standar penilaiannya berbeda.

Hahaha.

Yang jelas, saya memastikan “menteri urusan administrasi keluarga” bisa bekerja dengan tenang, aman, nyaman, tidak basah kehujanan, dan tidak kepanasan.

Karena dalam seluruh proses ini, orang yang paling banyak bekerja memang bukan saya.

Melainkan ibu dari anak-anak kami.

Lagi-lagi beliau berada di garis depan.

Tiga Kali Pengumuman

Setelah seluruh dokumen selesai, proses berlanjut sebagaimana lazimnya dalam tradisi Gereja Katolik.

Rencana pernikahan diumumkan sebanyak tiga kali saat misa.

Tujuannya sederhana tetapi penting.

Memberi kesempatan kepada umat untuk menyampaikan jika ada halangan kanonik yang diketahui.

Setelah semua tahapan selesai, dokumen-dokumen dikirim ke Jerman.

Sebagian melalui jasa titip.

Sebagian lagi dalam bentuk digital melalui PDF.

Teknologi membuat jarak ribuan kilometer terasa lebih pendek.

Namun tetap saja ada perasaan lega ketika mendengar kabar bahwa semua dokumen telah diterima dengan baik.

Ternyata Seperti Ini Rasanya

Di tengah semua urusan surat-menyurat itu, saya akhirnya memahami sesuatu.

Ternyata seperti inilah rasanya menjadi orang tua yang anaknya akan menikah di negeri orang.

Ada rasa bangga.

Ada rasa haru.

Ada rasa kehilangan yang samar-samar mulai muncul.

Dan ada kesadaran bahwa waktu berjalan lebih cepat daripada yang kita kira.

Rasanya baru kemarin mengantar mereka ke sekolah.

Baru kemarin menemani mereka belajar.

Baru kemarin mendengar mereka bertengkar soal hal-hal kecil.

Tiba-tiba sekarang kami sedang mengurus dokumen pernikahan mereka.

Dan sebentar lagi mereka akan membangun keluarga sendiri.

Mungkin memang demikian cara Tuhan mengajarkan orang tua untuk melepaskan.

Tidak sekaligus.

Tetapi perlahan-lahan.

Dimulai dari selembar surat.

Lalu setumpuk dokumen.

Kemudian sebuah pesta pernikahan.

Dan akhirnya sebuah keluarga baru.

Ketika semua proses itu selesai, saya menyadari satu hal.

Menjadi mertua ternyata tidak dimulai pada hari pernikahan.

Menjadi mertua dimulai jauh sebelumnya.

Mungkin dimulai ketika kita duduk menunggu antrean di kantor kelurahan sambil memegang map berisi dokumen anak yang sebentar lagi akan memulai hidup baru.

Dan akhirnya, waktu itu pun datang. Pada 6 Juli 2025, saya mengantarkan putri kami ke altar sebuah gereja katolik di Bombogen, Jerman. Gereja kecil yang berada di lingkungan rumah keluarga suami-nya. Saya tak kuat menahan haru. Si bungsu yang kala itu masih berusia 7 tahun memegang erat lengan saya saat kami duduk di bangku barisan depan. Mungkin dia aneh melihat ayahnya yang berbadan besar — agak gendut sih ya — hitam, menitikkan air mata.

Kicium kepala si bungsu dengan lembut. Aku berjanji dalam dalam hati, “Nak, kami dan ibumu akan memperlakukan hal yang sama terhadap kamu dan abangmu seperti yang kami lakukan terhadap kakak. Jangan khawatir. Tak akan ada perbedaan. Doakan saja usia kami panjang dan lengan ini masih tetap kokoh.” ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *