Severianus Endi: Jurnalis Kalem yang Memilih Berkarya daripada Menjual Diri

Kami bertemu karena blog, dipersatukan oleh ruang redaksi, dan dipertahankan oleh secangkir kopi serta obrolan persahabatan Ada orang yang pandai berbicara tentang dirinya sendiri. Ada pula orang yang lebih memilih membiarkan karyanya berbicara. Severianus Endi termasuk dalam kelompok kedua. Saya mengenal Endi bukan dari ruang redaksi, bukan pula dari seminar jurnalistik atau forum diskusi profesional. … Read more

Belajar dari Meja Makan Jerman: Mengapa Makanan Tidak Boleh Terbuang Sia-sia

Membuang makanan bukan hanya membuang apa yang ada di piring. Kita juga membuang air, energi, tanah, waktu, dan kerja keras banyak orang yang membuat makanan itu sampai ke meja kita. Selama beberapa minggu — tepatnya satu bulan lebih — tinggal di Jerman, ada satu kebiasaan yang perlahan menarik perhatian saya. Bukan soal teknologi. Bukan soal … Read more

Dari Tempayan Beras di Kampung hingga Meja Makan di Jerman

Di kampung saya, padi dipercaya berasal dari langit. Di Jerman, makanan dihargai dengan tidak membuangnya. Dua budaya yang berbeda, tetapi mengajarkan pelajaran yang sama: hormatilah makanan, sebab di dalamnya ada kehidupan Selama berkunjung ke Jerman, saya belajar banyak hal. Ada yang besar dan mudah terlihat. Kereta api yang teratur. Kota-kota yang bersih. Jalur sepeda yang … Read more

Musim Panas di Lüxem: Tentang Rumput, Lebah, dan Hari-Hari yang Berjalan Pelan

Di Lüxem, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari perjalanan yang jauh. Kadang ia hadir dalam bentuk rumput hijau, secangkir teh, dan percakapan sederhana di bawah langit musim panas Selama berada di Jerman, kami tidak selalu berpindah dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. Ada hari-hari ketika kami hanya tinggal di rumah. Tidak … Read more

Lüxem dan Bombogen: Tentang Bunga Matahari, Kebun Sayur, dan Kehidupan yang Berjalan Pelan

Selama hampir sebulan berada di Jerman, saya menyadari bahwa kenangan terbaik tidak selalu lahir dari tempat-tempat terkenal. Bukan dari kastel megah. Bukan dari kota-kota tua yang dipenuhi wisatawan. Bukan pula dari museum atau bangunan bersejarah. Kadang kenangan terbaik justru lahir dari kehidupan sehari-hari yang sederhana. Seperti hari-hari yang kami jalani di Lüxem dan Bombogen. Lüxem … Read more

Porta Nigra: Berdiri di Depan Dua Ribu Tahun Sejarah di Trier

Manusia datang dan pergi. Generasi berganti generasi. Namun Porta Nigra tetap berdiri, mengingatkan bahwa ada hal-hal yang mampu melampaui umur kita. Ada banyak bangunan tua yang kami lihat selama berada di Jerman. Katedral. Kastel. Rumah-rumah setengah kayu yang cantik. Jembatan-jembatan tua yang membentang di atas sungai. Namun ada satu bangunan yang benar-benar membuat saya berhenti … Read more

Lalak Kampokng

Ada masa ketika kampung menjadi sangat sunyi, sampai anak-anak pun belajar berbicara dengan bisikan Pada akhir tahun delapan puluhan dan awal sembilan puluhan, kampung mereka belum mengenal listrik. Malam datang benar-benar sebagai malam. Gelap turun perlahan dari balik hutan, lalu menyelimuti rumah-rumah kayu yang berdiri berjauhan di antara pohon-pohon dan ladang. Satu-satunya bangunan besar saat … Read more

Mata Kail dan Seekor Ular

Masa kecil di kampung mengajarkan satu hal: keberanian sering lahir bukan karena tidak takut, melainkan karena terlalu ingin menikmati petualangan. Ia suka memancing sejak kecil. Bukan memancing di danau besar atau laut seperti yang sering terlihat di televisi, melainkan di parit-parit kecil yang membelah ladang dan pinggir kampung. Parit-parit itu airnya kecokelatan, kadang tenang, kadang … Read more

Cahaya Pelita di Beranda

Ada masa ketika kebahagiaan tidak datang dari banyaknya cahaya, melainkan dari siapa yang duduk bersama kita di sekelilingnya. Sebelum listrik masuk ke kampung, malam datang dengan cara yang berbeda. Ia tidak hadir bersama lampu-lampu terang yang menyala hanya dengan satu sentuhan jari. Malam turun perlahan, mengikuti matahari yang tenggelam di balik hutan, lalu menyelimuti rumah-rumah … Read more